Masih Adakah Pemimpin?

Menyingkirkan ‘Kursi Goyang’ Pemimpin

Pemuda (baca: mahasiswa) menempati posisi strategis sebagai aset masa depan. Layaknya sesuatu yang berharga dipandang perlu adanya penjagaan secara maksimal. Penjagaan ini bukan berarti paradigma yang kaku. Akan tetapi tindakan untuk menumbuhkan rasa memiliki (sense of belong) terhadap tanah air. Agar generasi penerus tidak mengambil bagian dalam memperburuk citra pemimpin.

Pemuda hari ini adalah pemimpin periode berikutnya. Periode kepemimpinan yang dapat bergerak dan menciptakan perubahan signifikan. Bukan lagi bertemakan stagnansi janji politis  dan nikmatnya ‘kursi goyang’ kepemimpinan seperti beberapa periode terakhir.

Disisi lain, menurunnya kualitas kepercayaan masyarakat kepada pemimpin diibaratkan senjata makan tuan. Akar masalah dari krisis ini difaktori ketidakmampuan menunjukkan integritas moral pemimpin. Dampaknya semakin menjamur pemimpin, semakin kompleks masalah yang muncul.

Melihat posisi sosok pemimpin beberapa waktu terakhir dapat dikatakan tidak banyak yang peduli. Seolah – olah tidak terjadi sesuatu yang sedang mengancam. Sebab secara kasat mata kursi kepemimpinan masih berdiri kokoh. Ini terbukti dengan semakin panjangnya antrian “pemimpin” yang siap menggantikan.

Apabila disorot kualitas yang di’tawar’kan sangat memprihatinkan. Kongkritnya, hanya dengan pembuktian sederhana saja sudah dapat dilihat kualitas yang dimiliki. Munculnya beberapa wajah  wakil kita diberbagai media beberapa waktu belakangan cukup dijadikan sebagai uji kelayakan yang sebenarnya. Mulai dari kasus korupsi yang menduduki rating tertinggi hingga dewan pembolos. Sangat memprihatinkan ‘tenar’nya wakil kita bukan karena prestasi melainkan karena sikap egois.

Berbicara perilaku wakil kita sebagai pemimpin yang telah menjadi pusat perhatian memang terkesan memojokkan. Berita ini bukan rahasia lagi karena realita telah memaparkan secara jelas. Awal Agustus 2010, salah satu surat kabar berskala nasional memberitakan tentang dewan pembolos. Politisi yang suka membolos pada hakikatnya tidak hanya berdampak secara pribadi. Tanpa disadari para dewan telah mengabaikan amanah yang telah ditompangkan oleh rakyat.

Perilaku suka membolos ini selain berpengaruh terhadap kinerja dewan dalam penyusunan undang – undang (legislasi) juga akan berpengaruh pada fungsi pengawasan (controlling) dan fungsi anggaran (budgeting). Kita lihat proses pengusutan kasus skandal century yang diawasi DPR sampai saat ini belum juga menemukan titik terang. Ada cerita lain dengan fungsi anggaran. Pemimpin lebih “kreatif” dalam membuat anggaran untuk  kepentingan pribadi daripada kepentingan publik. Sehingga tidak dapat dielakkan lagi sikap tersebut telah menimbulkan kontroversi terkait usulan dana aspirasi  dan pengajuan dana renovasi gedung DPR yang mencapai miliaran rupiah[1].

Menariknya hanya dengan membolos beberapa  dewan saja sejumlah rapat dan agenda lain harus ditunda. Meskipun tetap dilaksanakan secara fisik  seringkali tidak memenuhi kuota forum (kuorum), karena banyak anggota yang titip absen dan membolos. Secara logika dengan melakukan korupsi waktu saja dapat menimbulkan dampak secara luas, kemudian bagaimana akibat melakukan korupsi uang.

Mencermati ‘prestasi’ pemimpin beberapa periode terakhir saatnya membuka cakrawala dan berfikir jauh kedepan. Pemuda (terutama mahasiswa) sebagai pelanjut estafet kepemimpinan dapat memberikan perubahan yang lebih baik. Bukan menjadi generasi yang akan mewarisi budaya menikmati asyik ‘kursi goyang’ saja.

Untuk itu perlu adanya optimalisasi potensi dan mengasah jiwa kepemimpinan yang solid sedari dini. Sebelum secara nyata berada ditampuk kepemimpinan. Dengan menelaah akar permasalahan kepemimpinan yang pelik, secara sederhana ada beberapa hal yang harus dilakukan serta diinternalisasi kedalam diri para pemimpin dan pemilik masa depan.

Pertama, menyeimbangkan fungsi spiritual, emosional, dan intelektual. Ketidakseimbangan ketiga fungsi ini merupakan jawaban dari krisis kepemimpinan. Realitanya secara akademik sebagian besar kemampuan pemimpin kita tidak diragukan lagi. Bahkan tidak sedikit yang bergelar professor baik dari dalam maupun luar negeri. Akan tetapi faktanya gelar akademis dan kekayaan intelektual saja bukanlah jaminan untuk menjadi pemimpin sejati. Sebab tidak jarang masalah yang muncul adalah ulah orang berdasi (white collar crime).

Keseimbangan ketiga fungsi ini harus diinternalisasi secara sempurna pada setiap pribadi generasi muda. Sebagai pemilik masa depan tugasnya tidak cukup dengan memperkuat intelektual saja. Tidak cukup hanya pintar secara individu, tetapi juga memiliki kepekaan untuk merasakan ( fungsi emosional), serta membentengi diri dengan nilai – nilai spiritual agar suara hati tidak terbelenggu.

Mengenali Allah dan mendengarkan suara hati merupakan cara mengasah kemampuan spiritual. Perasaan takut dan merasa selalu diawasi oleh Allah (muraqabah) hanya muncul ketika mengenal Allah. Sehubungan dengan itu mendengarkan hati nurani adalah satu – satunya jalan merealisasikan anggukan universal terhadap nilai kebenaran. Apabila hati nurani telah menjadi penguasa dalam diri seorang pemimpin maka mental kepemimpinan (rasa tanggung jawab, visioner, adil,dan sebagainya) akan muncul dengan sendirinya.

Korelasinya terlihat ketika memegang tampuk kepemimpinan. Kemampuan intelektual dapat mencarikan solusi kreatif dari permasalahan. Sedangkan fungsi emosional terdeskripsi dalam kecekatan mencari solusi dan menghitung resiko. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemampuan menghitung resiko yang ber’kiblat’ diatas kepentingan rakyat merupakan salah satu jelmaan nilai spritiual yang dimiliki.

Kokohnya kemampuan spiritual dapat memberikan efek positif dalam mengasah kemampuan emosional dan intelektual. Suara hati baru akan dapat dilihat saat emosional berfungsi. Disisi lain, juga akan muncul kreativitas sebagai implementasi dari kemampuan intelektual. Satu kalimat kunci bahwa keseimbangan ketiga fungsi inilah modal paling utama dalam mempengaruhi (memimpin).

Kedua, mengasah potensi kepemimpinan dengan berorganisasi. Eksistensi organisasi baik intra departemen pendidikan (misalnya UKM) maupun organisasi departemen pendidikan (Karang Taruna,LSM) memiliki tujuan yang sama. Kesamaannya terletak pada value yang ingin diberikan yaitu penguatan karakter kepemimpinan dan kepekaan menyelami karakter orang lain.

Penguatan karakter kepemimpinan yang ingin dicapai tidak lain adalah nilai utama yang harus dimiliki calon pemimpin. Nilai utama tersebut tidak akan pernah terlepas dari tanggung jawab, kreatifitas dalam menyelesaikan masalah, berfikir kritis yang solutif, dan sebagainya. Begitu juga dalam menumbuhkan emosional sebagai modal untuk memahami orang lain. Suatu kemampuan untuk bergerak kooperatif dalam suatu komunitas melakukan perubahan signifikan.

Kegiatan/organisasi memberikan dampak positif sebagai sarana untuk mengembangkan potensi diri dan mental kepemimpinan. Riskan sekali jika generasi muda tidak memiliki perbekalan menuju ‘hari esok’. Apalagi masih dibalut kegamangan ketika tidak ada lagi “motor penggerak”. Padahal kita para generasi penerus dituntut akan membawa perubahan selangkah demi selangkah ke dunia internasional.

Keterlibatan dalam suatu kegiatan (organisasi) hanya wadah pengisi waktu luang. Atau berorganisasi hanya untuk dikenal sebagai ‘aktivis’ saja. Secara langsung itu bukan jawaban calon pemimpin apalagi pemilik masa depan. Dengan kata lain, generasi muda yang tidak mampu memaknai berorganisasi apalagi tidak pernah berorganisasi bukanlah termasuk aset masa depan. Sebab secara logika apa yang akan diberikan kepada orang lain, sedangkan dia sendiri tidak memiliki apapun.

Ketiga, memiliki tujuan yang jelas dan komitmen. Ibaratkan menaiki tangga kepemimpinan maka tujuan akan berada pada tingkatan teratas. Kita sering tertipu dengan tujuan secara tersurat. Dan terkadang tidak jarang terbawa arus dengan ‘ungkapan tujuan’ dalam janji – janji politis. Kini saatnya mencermati bahwa tujuan yang sebenarnya dapat dilihat dalam aplikasinya.

Pemilik masa depan yang sukses adalah orang komitmen yang (baca: fokus) pada tujuan pembenahan terhadap masa depan itu sendiri. Banyaknya penyimpangan yang terjadi merupakan akibat lemahnya titik fokus. Agar tujuan itu dapat dijaga maka kata fokus tidak dapat diabaikan sebagai kendali utama.

Akhirnya, ditarik kesimpulan bahwa semakin rawannya krisis kepemimpinan dengan modus yang sama bukan disebabkan melemahnya intelektual. Bukan juga dilatarbelakangi awam dengan perkembangan teknologi. Setelah dicermati, fenomena ini berkaitan erat dengan terbelenggunya moral dan budi utama seorang pemimpin (integritas). Terbelenggunya nilai – nilai tersebut karena suara hati lebih didominasi oleh sikap egois dan hilangnya titik fokus.

Secara jelas dapat dilihat bahwa keseimbangan fungsi spiritual, fungsi emosional, dan fungsi intelektual merupakan pondasi paling utama. Kemampuan menyempurnakan dan menyeimbangkan fungsi tersebut dan bulatnya titik fokus adalah jawaban mengatasi krisis kepemimpinan dan melahirkan pemimpin yang solid.


[1] Dewan Pembolos, Republika edisi 4  Agustus 2010, hal. 4

Diterbitkan di: on 21 September 2010 at 1:53 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://atnadewi.wordpress.com/2010/09/21/masih-adakah-pemimpin/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.