Narasi

Aku Pasti Kembali

Sinar mentari pagi menerpa kristal – kristal bening di ujung dedaunan. Kicauan burung terdengar syahdu  menyambut sinar kehidupan. Seakan – akan mengucapkan salam dihari pertamaku menikmati aura pedalaman provinsi Jambi. Pandanganku menyapu setiap sudut alam. Jauh diujung pandanganku menghujam segerombolan domba dihalau anak kecil bertelanjang dada. Kira – kira berusia tujuh tahun. Sebuah ranting menari – nari ditangan kurusnya. Dan terhenti menikmati permadani alam yang terhampar luas : padang rumput. Uhh… pasti tempat itu sasaran dombanya. Ternyata tebakanku tidak melesat. Terlihat jelas ayunan langkahnya memasuki hamparan yang menghijau. Subhanallah, sungguh indah karya-Mu ya Rabb. Kesejukan merasuki sumsumku. Pandanganku tak merasakan kejenuhan. Aku terhipnotis, takjub.

Dipadang rumput pedalaman ini aku merasa pengembara, sepi tak berpenghuni. Desahku semakin panjang.

“ Lamo nian, atuk lihat bujang temenung, sedak pikie apo?”

“ Eh.. oh.., atuk “ jawabku setengah kaget.

“Tak eloklah temenung pagi – pagi buto”.

“Bujang tak pikie apo – apo, atuk. Bujang senang diam disini.”

“Eloklah. Kalo macam tu Atuk ambik getah dulu”. Sembari berlalu.

Mataku mengekori setiap langkah atuk kudi. Di usia senja ayunan langkahnya masih menyisakan ketegaran. Enam orang anak menuntutnya untuk membanting tulang. Ah.. mengingatkan pada sosok ayahku yang telah dipanggil-Nya. Stroke yang menyerangnya selama satu tahun, harus berakhir ketika usiaku tujuh tahun.

“ Engkau begitu tegar, atuk. Kebaikanmu tidak akan sia – sia”. Batinku.

*************

Ku tatih kaki menaiki tangga satu demi satu. Rumah panggung yang sudah uzur berlantai papan, disinilah aku tinggal bersama empat orang temanku. Kulayangkan pandangan, tiba – tiba  mataku beradu dengan kepala harimau yang sudah kering. Bulu romaku tersentak, seolah – olah gaya magnetis menarik cepat.

“ Bujang, liat apo?”

“ Ndak.. ndak apo – apo, amak. Bujang baru balek dari bawah”. Jawabku menyembunyikan    kengerian.

“ Eloklah Bujang ambik makan dulu”.

“ Iyo, amak. Bujang nak bawo Bujang – bujang laen dulu”.

Kebaikan hati atuk kudi dan istrinya perlahan – lahan menghilangkan kengerianku. Aura hutan belantara yang mengelilingi daerah ini, berangsur memberikan kenyamanan bagiku. Satu amanah almamater melunturkan pesimisku. Pikiran sempit harus kujadikan debu, agar angin optimis mengikis habis tak bersisa.

*****************

Rotasi waktu terus merangkak. Tanpa terasa sudah tiga hari, aku leluasa menghirup udara segar disini. Begitu jauh berbeda dengan udara kota dengan polusi yang bervariasi. Mulai dari polusi pabrik, angkutan kota, busway, sepeda motor, rokok, dan dari sumber polusi lainnya. Taman – taman kota tidak sanggup lagi menyerap karbondioksida untuk berfotosintesis dan menghasilkan oksigen. Keindahan hanya terdiskripsi pada gedung – gedung pencakar langit yang menjulang angkuh.

“ Fren, loe betah ga’ sich tinggal disini, mana ga’ bisa calling-an lagi?” piyu memecah sepi.

“ Ya, gue sich nevermind, karena rumah nenek gue juga ga’ jauh beda”.

“ Iya, gue ngerasa ada aura aneh, apalagi diruang tamunya ada kepala harimau, hiii…”.

“ Hus… jangan ngomong macam – macam, ntar kesambet lho” tegurku

Ucapanku membuat semua terbungkam, hanyut di bawah selimut masing – masing. Senyumku mekar memikirkan apa yang mengitari benak mereka, takut. Di bawah cahaya petromak kucuri pandang mernyusuri wajah mereka. Lucu.

“ tok.. tok…tokkk”.

“ Awwwwwwwwwwwwwww…..”. serentak menjerit.

“ Ha… ha..rimau…!!!” teriak deni.

“ Ini atuk, Bujang. Boleh atuk masuk?”.

“ I… i..ya, boleh atuk”, jawabku.

Beberapa detik berselang detak jantung belum juga normal, meski desiran darah mulai mengalir tenang. Cahaya petromak mewakili perasaan kami masing – masing bersama atuk kudi. Pertanyaan demi pertanyaan bertengger dbenakku.

Malam terus merangkak, jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.45. Terdengar irama tenggorokan Deni, Jaka, dan Piyu menggiring malam yamg kian dingin. Kulirik Benny, terlihat gelisah menyita malamnya . Aku tidak mengusiknya. Lama menerawang, mataku enggan terpejam. Pelepasan KKN di auditorium tiga hari lalu menari – nari dipelupuk mataku. Aku harus berbuat sesuatu membatin.

***************

Pertemuan dengan pemimpin dusun tadi malam menikamku. Apalagi sejak kami tinggal disini, langkah kaki aneh selalu mengitari sekeliling rumah atuk kudi. Semburan pasir dan suara tak karuan berakhir mejelang pertengahan malam. Apa sebenarnya yang terjadi? Fikiranku berkecamuk. Malam ini penasaranku semakin memuncak. Aku coba mengibas selimut perlahan dan berjingkrat seperti maling. Aku mencari celah dan mengitari arah langkah aneh itu. Namun hanya hitam pekat yang kutemukan. Tiba – tiba dingin menyerangku. Setelah dua jam bagai dedektif Conan dibalik celah, usahaku tidak membuahkan hasil. Ah gagal. Malam berikutnya kesialan mengungkap misteri itu tetap nihil.

Kekentalan animisme dan dinamisme memberikan kerikil tajam bagi kami. Asumsi terhadap anak kota dianggap sebagai pembawa sial. Perusak idealisme nenek moyang mereka.

“ Vin, loe yakin dengan rencana kita ?” Jaka membidikku.

“ Iya fren, jangankan orang lain, anak atuk kudi aja mencap kita pembawa sial”. Piyu menimpali.

“ Gue anggap kita semua udah dewasa dan mampu befikir positif”. Beberapa saat kemudian

“ Iya, benar”, dukung Benny.

“ Tapi…”,

“ Gue berharap kita disini tidak hanya bermotif nilai, tapi ajang membangkitkan jiwa sosial juga”.  jelasku

“ Dan satu lagi, waktu kita masih tersisa kira – kira tiga setengah bulan lagi. Teman – teman tentunya faham dengan kondisi itu”, Deni buka suara.

“ Dipedalaman seperti ini sulit diakses, jadi mumpung kita masih disini. Siapa lagi sebagai agent of change itu?”.

“ Teman – teman yakin, sepulang dari sini akan ada schedule lagi untuk mengunjungi pedalaman seperti ini?” Semua membisu.

“ Memang kita miskin materi kita tidak punya apa – apa, tapi kita masih bisa merealisasikan ide”, terangku panjang lebar.

Kulihat Jaka dan Benny saling berpandangan. Aku berharap mereka andil dalam perintisan pembangunan Koperasi Unit Desa ( KUD ) dan sekolah setingkat SD. Sejak pembentukan “tim marjinal bangkit”, aku terpilih sebagi ketua. Teman – temanku merasa segan dan sering mempertimbangkan usulanku.

*****************

Sebuah batu besar jika dipukuli terus menerus dan diterpa hujan – panas maka lama kelamaan akan hancur menjadi tanah. Begitu juga dengan pemimpin dusun, berkat lobi dan negosiasi Jaka yang full action, ternyata Allah mempertemukan hati mereka. Peletakan tonggak pertama, untuk pembangunan SD dan disusul oleh KUD hanya dihadiri oleh keluarga atuk kudi, kecuali Bayan anak tertuanya. Diujung sana juga terlihat pemimpin desa manggut – manggut dengan kostum kebesarannya berkolaborasi dengan 10 orang penduduk lainnya. Lelehan keringat menjadi saksi bisu perintisan dipedalaman ini.

*****************

Waktu terus menciut, sisa waktu kian menipis. Rencana empat bulan lalu, telah terjawab oleh waktu. Meskipun belum mencapai titik sempurna, namun melihat kebekuan hati penduduk yang mulai luntur. Optimis meyakinkanku bahwa perintisan ini akan mencapai kesempurnaan.

Sinar matahari menerobos celah dedaunan. Sebelum waktu sholat dhuha, kami akan kembali ke pangkuan almamater. Terasa berat meninggalkan pedalaman yang semakin hari menunjukkan pencerahan ini. Tumpukan barang menggunung diberanda depan. Kulayangkan pandangan ke bawah tangga terlihat 10 buah durian hasil perkebunan. Buah tangan dari atuk kudi untuk kami.

“Atuk dan amak. Maso tak izinkan awak nak diam disini. Bujang nak balek ke kota”,

“ iyo, atuk. Awak harus balek. Budi baek tak awak lupa. Terimo kasih, atuk”, sambung Deni

Tiba – tiba :

“ Fren, itu mereka ngapain? Jangan – jangan kita mau diserang lagi”. Seru Jaka .

Semua pandangan mengikuti telunjuk Jaka. Terlihat pemimpin desa dan rombangannya tergesa – gesa mendekati kami. Jantungku berdegub kencang. Ada apa ini ucapku membatin. Fikiranku berkecamuk tak karuan. Suasana semakin tegang, tak satupun yang buka suara. Rombangan semakin dekat, satu persatu anggota rombangan menaiki tangga, dan ada yang tetap bertahan di bawah panggung karena gubuk telah sarat.

“ Bujang, atuk denga ndak balek ke kota, tak betokah?”, pertanyaan itu membuatku lega.

“ I.. iyo, atuk. Awak udah habis masa diam disini”. Jawabku berusaha rileks

“ Kalo Bujang – Bujang habis masa, siapo nak lanjutkan bangunan itu?”’ semabari menunjuk bangunan kayu tepat di depan gubuk yang masih terbengkalai.

“ Ma’afkan awak atuk, awak harus sambung sekolah lagi”.

Suasana membisu, semua terhanyut dengan perasaan masing – masing. Aku tidak tahu pemberontakan apa yang terjadi dibatin mereka. Pandanganku menangkap tetesan bening menyusuri wajah Bayan. Anak atuk kudi yang tidak jauh berbeda dengan usiaku. Penyesalan dan kesedihan tergambar diwajahnya. Wajahnya mengingatkanku pada langkah aneh dan mantra – mantra tengah malam.

“ Atuk, awak harap atuk lanjutkan rintisan bangunan tu”,

“ Iya atuk, isuk – isuk awak nak tempuh jugo kesiko”, timpal Jaka meyakinkan.

***********

Selembar koran harian mengisi pagiku. Bak elang yang mengincar anak ayam mata tertancap pada satu title, ledakan bom di dua hotel mewah di kawasan mega kuningan: Ritz Calrton dan  JW Marriot. Kemudian menyusuri informasi lain. Tiba – tiba penasaran menguasai ku, melihat tulisan  “ Anak Kota, Menyulap Pedalaman Jambi “. Aku semakin konsentrasi mengunyah tulisan itu. Dibagian bawah terlihat ditulis oleh Reka Anggara, S.H. alumni 1999 SD Jaya,pedalaman Jambi. Tanpa disadari airmataku meleleh. Ya, Allah, Engkau maha kuasa atas segala sesuatu. Rasa rinduku merayu ingin menjemput kenangan 14 tahun yang lalu. “Tunggu aku desa kenangan”, batinku.

Diterbitkan di: on 1 Maret 2010 at 10:50 am  Komentar (2)  

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://atnadewi.wordpress.com/2010/03/01/narasi/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. ceritanya menarik, salam kenal….

    http://flyegg.wordpress.com/

    • Terima kasih atas kunjungannya.. SALAM KENAL juga dari Atna..


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.