‘Kan Selalu Terulang

Detik – detik dalam proses penerimaan calon etoser selalu menyegarkan puing – puing kenangan. Langkah perjuanganku, tetes keringat Ayah, do’a malam Ibu, atau bahkan saudaraku yang secara diam – diam bermunajat untukku. Khusus bagiku sendiri, mengingat moment seperti ini ibarat luka lama. Kenapa? Karena dulu aku juga pernah merasakan apa yang mereka rasakan saat ini. Cemas, galau, bahkan tidak ingin hadirnya saat penantian kelulusan jika hanya perpisahan yang menyakitkan. Mungkin juga sempat untuk memungkiri takdir yang telah tertulis. Dan ingin lari dari semua itu.

Rute sosialisasi etosku kali ini berbeda dengan sosialisasi setahun yang lalu.Terlebih mengenai lokasi dan mekanisme sosialisasi. Jika setahun yang lalu,lokasi sosialisasiku fokus pada tempat dimana aku ‘membekali’ diri ( dikampung sendiri,red ). Kali ini dikampung orang. Setahun yang lalu, dibalut almamater berwarna hijau; aku melangkah pasti seorang diri dengan semangat untuk mengembalikan semangat baru bagi adik – adik. Istimewa bagi adik – adik yang selalu menunduk saat pertanyaan sederhana mendarat di gendang telinga.  Hanya satu pertanyaan Mau kuliah dimana?.

Satu pencerahan yang sangat berarti bagi mereka yang istimewa. Aku melangkah berbekal amunisi agar engkau mampu mengangkat wajah. Agar karangmu semakin tegar meskipun ombak besar menghantam. Dan kau berucap “ Dengan tekad kuat dan kondisi inilah yang membuat aku berbeda dengan mereka dalam meraih sukses “.

Sabtu, 13 Februari 2010

Untuk sosialisasi kali ini, aku sama santi ( etoser 08 ) memutuskan untuk join. Perjalanan sosialisasi dimulai dari Padang menuju Lubuk Alung tepat pukul 08.00 WIB. Berbicara mengenai Lubuk Alung, menempuh jarak waktu lebih kurang selama 2,5 jam dari Padang sampai ketujuan pertama yaitu SMAN 1 Lubuk Alung. Yah, lumayan lama. Setelah 3 kali gonta – ganti angkot, Alhamdulillah sampai juga.

Berbicara mekanisme, tidak jauh berbeda dengan yang telah dilakukan setahun yang lalu. Tentunya langkah pertama yang dilakukan adalah minta izin kepada pihak sekolah. Nah, tepatnya udah sampai pada gerbang sekolah yang dituju, aku dan santi siap – siap untuk memasang almamater agar tampak lebih keren. Dan tidak lupa buat menerapkan 5S ( senyum, salam, sapa, sopan, dan santun ). Untuk yang pertama menikmati 5S adalah penjaga sekolah (baca : satpam ).

Tanpa panjang lebar, kita diizinkan masuk untuk menemui wakil kepala sekolah. Kebetulan pada saat itu kepala sekolah sedang ada tugas ke Bungkit tinggi. Meskipun dicelah kesibukan wakil kepala sekolah sebagai tuan rumah olimpiade kimia se – Sumbar namun sambutannya cukup hangat dan bersahabat.

Tak lama berselang, kami dilayani oleh dua orang guru sepertinya sebagai delegator. Satu hal yang menarik dari pembicaraan dari salah satu delegator tersebut, yaitu mengenai status ekonomi PNS. Sekilas dapat ditangkap, mengapa seseorang yang orangtuanya berstatus PNS selalu dianggap kelompok yang selalu dieleminasi dalam hal penerimaan beasiswa atau semacamnya.

Dan usut punya usut ternyata ibuk itu berminat dengan beastudi etos untuk anaknya yang juga kelas tiga. Mengingat statusnya sebagai PNS timbul pertanyaan mengenai kriteria yang masuk kategori seleksi beastudi etos khususnya di Padang. Setelah dijelaskam sedikit banyaknya, mengenai konteks dari beasiswa itu terutama tentang beastudi etos. Pembicaraan mulai dialihkan. Akhirnya pihak sekolah mengizinkan kita untuk sosialisasi.

Tidak bisa dipungkiri, dimanapun sekolahnya jurusan IPA selalu mendapat lirikan yang pertama. Kenyataannya tidak jauh berbeda dengan sekolah ini. Untuk sosialisasi awal kita diajak kelokal IPA 1 terlebih dahulu dan final pada IPS 5. Selama sosialisasi kelokal – local; ada respon antusias, datar alias gak ada yang istimewa, dan ada juga yang bengong. Pokoknya warna – warni bak pelangi. Yang penting nikmati aja.

Dalam sosialisasi ini, kita membagi dua tahap. Yang pertama, pembukaan secara umum dihandle oleh satu orang. Dan selanjutnya penjelasan tentang beastudi etos secara detail dihandle oleh satu orang lagi. Detailnya mulai dari mekanisme seleksi, apa yang akan diperoleh, sampai pada penjabaran jurusan yang diromendasikan.

Setelah clear di SMAN 1 Lubuk Alung, saatnya mencari ‘mangsa’ lain. Yang tidak lain adalah MAN 1 Lubuk Alung; jaraknya kira – kira 10 menit naik angkot dari SMAN 1 Lubuk Alung.

Mengingat pasca gempa 30 September  ( G30S ) lalu. Disini sangat bertolak belakang dari sekolah sebelumnya. Pada sekolah pertama, bangunan masih terlihat angkuh berdiri. Namun, di sekolah kedua adalah sekolah darurat, dan terlihat adalah hasil program Dompet Dhu’afa Republika.

Di tempat kedua ini, pertemuan dengan kepala sekolah dapat terlaksana namun tujuan awal tidak tercapai. Awalnya sempat kaku karena kita ditolak. Lobi dan negosiasipun dilancarkan,namun tetap tidak mencapai titik temu. Untuk mengisi kekakuan, kita sempat meyakinkan bahwa ini beda dengan beastudi lainnya. Satu jawaban yang terlontar “ Emang benar, tetapi subtansinya akan tetap sama yaitu akan mengganggu kosentrasi belajar siswa”.

Kita sedikit renggang saat dijelaskan bahwa ada kesepakatan internal sekolah. Dimana sebisa mungkin membatasi pihak luar yang ingin masuk terutama bersifat parasit terhadap stabilitas PBM dan pencapaian target UN. Intinya kita juga tidak bisa memaksa. Yang dapat dilakukan hanyalah meninggalkan form data base dan brosur beastudi etos. Dan menyerahkan sepenuhnya pada pihak sekolah untuk proses sosialisasi.

Sempat terpikir untuk lanjut kesekolah berikutnya. Tetapi mengingat waktu yang tersisa, tidak memungkinkan untuk sosialisasi. Bertepatan pada hari sabtu, anak sekolahan lebih awal pulang daripada biasanya. Akhirnya kita memutuskan untuk balik ke Padang.

Kira – kira jam 14.15 WIB, kita sampai di Padang setelah menikmati ‘ayunan’ angkot dalam guyuran hujan sambil melepas lelah. Melelahkan namun memberikan arti tersendiri.