Moment 22/12

Hanya untukmu,Ibu

Dua puluh tahun silam

Kerikil kecil mencuat tajam

Hingga telapak mu mengeras

Kau tak lelah mengemban amanah

Rutemu tak jua berubah

Hanya untuk menyapa sisi tajam bebatuan

Tegar langkahmu kini tertatih

Namun beban batu tak kunjung kau lepas

Ibu…

Mereka bilang engkau keras kepala

tapi ku tau engkau mulia

karena kumenjamah yang tersirat

Ibu…

Tak akan ada wanita kedua hingga ku tak lagi  menunggu pagi

Bahasan

Eksistensi Mahasiswa dalam “Sumbangsih” Sosial

Mahasiswa sebagai garda terdepan menuju perubahan mewakili kalangan pemuda. Kalangan pengemban amanah sebagai agen perubahan ( agent of change ) yang idealis. Sosok yang dituntut untuk tampil sebagai penggerak. Memang hingga saat ini eksistensi mahasiswa masih bertahan sebagi “pelopor” perubahan. Jika ditilik dari sejarah, mahasiswa telah mengambil peran penting menggulingkan rezim orde baru dan memasuki era reformasi label mahasiswa sebagai agen perubahan masih terlihat.

Posisi mahasiswa sebagai generasi penerus tak terlepas dari sorotan berbagai kalangan. Bulir – bulir semangat jiwa pemuda  berstatus mahasiswa  tetap dinanti untuk mengisi pembangunan. Melanjutkan pengisian kemerdekaan yang berjiwa empati dan berdedikasi tinggi. Meskipun realitanya tak sedikit yang egois dan anarkis dalam mewujudkan perubahan.

Fokus pada mahasiswa sebagai sumbangsih masa depan. Dituntut agar mampu  bergerak positif dan berperan aktif. Dan perlu di garis bawahi penggerak tidak harus terjun ke lapangan, namun ide – ide briliant tetap mengambil peran utama. Meski terkadang idealisme itu sendiri tersita oleh politik dan jabatan ( R. Andriadi Achmad, 2007 ). Diantara tumpukan tugas dan ide  dalam  kebangkitan semangat pemuda juga harus memperhatikan “ kode etik kolaborasi”. Etika perpaduan mengaplikasikan solusi dengan kalangan eksekutif terutama dalam hal yang bersifat prinsip.

Pergerakan mahasiswa tidak hanya berbicara kampus, politik,dan jabatan. Namun kualitas jiwa sosial juga harus menjadi potensi utama. Realitanya potensi sosial mahasiswa sering tergilas oleh deadline jabatan. Dengan kata lain, mencari posisi aman untuk hari tua. Sungguh miris, jika sosok agen perubahan menutup mata terhadap fenomena sosial yang ada.

Kebangkitan mahasiswa dalam semangat kedermawanan akan aplikatif saat terjun dalam kehidupan sosial ( masyarakat ). Kongkritnya, satu dekade terakhir banyak hal yang membutuhkan perhatian khusus. Di penghujung tahun 2004 tsunami melanda Aceh, gempa di Nias, galodo di Sumbar, kebakaran hutan, robohnya tanggul Situ Gintung, lapindo yang sampai saat ini masih memuntahkan lumpurnya, dan bencana lainnya. Dalam hal ini, tentunya tidak hanya menjadi tugas satu elemen.tetapi kepekaan sosial (sense of social ) berbagai elemen, baik pemerintah, mahasiswa, maupun masyarakat pada umumnya.

Menyikapi situasi ini tentunya diperlukan mahasiswa yang proaksi. Sosok yang mampu   menularkan efek positif bagi pemuda “tidur “, misalnya bergabung dalam tim Relawan Tanggap Bencana (RTB). Proaktif menunjukkan semangat peran sosial dan mengorbankan sedikit waktu saat orang lain mengorbankan jiwa.

Memang, sejatinya tidak hanya satu aspek saja dijadikan parameter jiwa sosial mahasiswa, tapi aspek lain yang juga perlu perhatian secara spesifik. Dengan kata lain, berpartisipasi penuh dan pembenahan terhadap pendidikan juga perlu diwujudkan eksistensinya. Seperti kerjasama dengan pemerintah kota untuk membenahi sekolah – sekolah marjinal ( kritis ) juga merupakan sumbangan bermotif sosial.

Saat ini ikon – ikon sosial sebagai wadah mengimplementasikan  kedermawanan sosial belum menunjukkan efektivitas. Bercermin pada kondisi lapangan perlu adanya back up pada agen – agen perubahan. Dengan melihat kompetensi hari ini, tak jarang mahasiswa bermotif study oriented. Ironisnya, kualitas kedermawanan sosial semakin samar. Dengan kata lain, implementasi ilmu padi menunjukkan nilai minus.

Fenomena – fenomena hari ini terkadang bersifat parasit terhadap pencapaian tujuan pembaharuan. Namun, disinilah seharusnya wadah membuka mata terhadap kondisi yang terkadang menurunkan militansi agen perubahan. “Lowongan” yang selalu terbuka dan akan pernah tutup selama semangat sosial masih terjaga, seperti : penggalangan dana kampus yang dinaungi oleh BEM, aktif di PKPU, dan posko aksi sosial lain untuk anak putus sekolah & panti asuhan. Dan masih banyak hal yang dapat dilakukan untuk memupuk  jiwa empati.

Dengan kondisi yang ada tentunya besar harapan kepada mahasiswa mewujudkan eksisitensinya. Serta mampu membangkitkan semangat sosial yang selama ini belum optimal dan proaktif mengisi “lowongan” sosial.