Untuk Negeriku Indonesia Yang lebih Baik

Saya Bukan Pewaris Negeri

Headline news  media massa tidak pernah absen dari permasalahan negeri ini. Permasalahan yang muncul tidak terlepas dari degradasi moral khususnya yang dilakukan oleh oknum pejabat. Semua tindak tanduk oknum diekspos tanpa ada batasan. Tanpa disadari pemberitaan media massa  terkadang minim unsur edukasi.

Kasus korupsi yang melibatkan oknum penegak hukum dan beberapa politisi belum menemukan titik temu. Negeri ini kembali dikejutkan indikasi dugaan suap (gratifikasi) di kemenakertrans, kemendiknas, dan instansi pemerintah lainnya. Beberapa waktu lagi bukan suatu kemustahilan tokoh publik lain muncul dengan kasus berbeda ataupun sama dengan pendahulunya. Sekilas terlihat seperti perlombaan saja mengisi headline news diberbagai media massa.

Setelah dicermati,kasus yang bermunculan tidak terlepas dari motif ingin cepat kaya. Secara langsung dapat dikatakan hanya ada dua nama untuk satu objek (uang) yaitu korupsi atau gratifikasi. Meskipun terdapat nama lain misalnya aksi bom bunuh diri (terorisme) persentasinya sangat kecil bahkan hanya untuk mengalihkan isu saja. Sebuah realita yang sulit dimengerti.

Kurang bijak rasanya jika membahas tokoh publik yang sedang diseret, terseret, ataupun yang akan diseret dalam proses peradilan. Saatnya mahasiswa lebih dituntut untuk memperbaiki karakter bangsa sehingga meminimalisir masalah degradasi moral khususnya. Mengapa harus mahasiswa?  Karena sudah menjadi suatu keniscayaan yang sedang berkuasa akan habis masa jabatannya dan yang muda akan menggantikan. Mahasiswa yang mencintai tanah airnya akan berbuat maksimal bukan minimalis. Sehingga menjadi pewaris negeri yang dinanti sebagai agent of change dapat terwujud.

Selagi masih idealis maka bergeraklah dan hanya itu jawaban satu – satunya. Ibaratkan negeri ini dalam kegelapan, para mahasiswa memiliki bekal lilin yang utuh dan korek api yang masih baru. Lalu menunggu apalagi? Apakah selamanya akan meraba dalam kegelapan atau berusaha menyalakan lilin untuk menemukan jalan perubahan. Perumpamaan yang sarat makna antara lilin dan korek api. Lilin melambangkan potensi/intelektualitas sedangkan korek api sebagai integritas. Untuk menyatukan kedua benda itu menjadi lentera memerlukan komitmen kuat.

Kata populer ilmu hukum antara das sein (kenyataan) dengan das sollen (yang seharusnya) sangat sulit sejalan. Akan tetapi,disinilah dibutuhkan komitmen yang kuat dan tidak akan ada tindakan tanpa konsekuensi. Bagi kita para mahasiswa saatnya menjadi bagian dari solusi permasalahan. Untuk itu ada dua upaya yang dapat dilakukan baik upaya preventif maupun upaya represif.

Upaya preventif yang dapat dilakukan, antara lain: Pertama, pendidikan karakter. Pokok pangkal permasalahan negeri ini bukan secara intelektual tetapi moral (integritas) yang tidak tertanam kuat. Sehingga godaan (materi) sekecil apapun mampu menggoyahkan bahkan menumbangkan maka jadilah pribadi gagal. Ironis, jika generasi seperti ini yang akan menjadi pemimpin.

Melihat kondisi inilah sangat diperlukan pendidikan karakter yang akan menjadi penjaga dalam setiap tindakan. Minusnya pendidikan karakter tingkat lini khususnya dalam masa pendidikan formal yang notabene proses menemukan jati diri berpotensi menghasilkan pribadi tanpa integritas. Semua itu terjadi karena tujuan yang hanya fokus pada bagaimana cepat tamat, mendapat kerja “layak”, dan kaya. Pembangunan karakter menjadi tersingkirkan bahkan hilang.

Secara sederhana, pendidikan karakter dapat dilakukan melalui tiga  tahap dengan korelasi yang sangat erat,yaitu: (1). Lingkungan Keluarga inti. Peran orang tua dalam membentuk pribadi anak berpotensi besar melahirkan generasi berkualitas. Generasi baru yang tidak hanya cerdas secara inteletual tetapi juga cerdas secara emosional dan spiritual. Dapat dilihat bahwa kehidupan sosial seseorang merupakan representasi keluarga inti. Apabila dikenal baik seseorang dalam bermasyarakat maka keluarga tempat ia dibesarkan dapat dikatakan menjalankan peran sebagai anggota kelurga dengan baik dan sebaliknya. (2). Sekolah. Tidak selamanya seorang anak bergabung dengan keluarga. Ada saatnya untuk mengenal dunia luar bahkan lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah. Tahapan ini tidak dapat dihindari tentunya. Disinilah peran besar guru dalam melakukan penjagaan dan pendidikan karakter. Mahasiswa pada umumnya apabila telah berda dalam zona pendidikan formal secara langsung maupun tidak langsung akan mengurangi intensitas pertemuan dengan orangtua yang juga sibuk dengan pekerjaan.  dan (3). Keluaga hubungan perkawinan. Saat telah mempunyai keluarga sendiri, desakan pasangan termasuk mertua juga berpotensi memicu melakukan korupsi misalnya untuk menjadi menantu yang tajir. Pada tahapan ini juga perlu penguatan integritas yang telah diperoleh dari keluarga inti dan selama masa pendidikan.

Pendidikan karakter ini seperti siklus yang akan terus terjadi. Jika hari ini berada pada posisi menjadi anak yang membutuhkan pendidikan dan penguatan karakter, beberapa tahun kedepan akan menjadi orangtua yang akan memberikan pendidikan dan melahirkan penerus yang memiliki integritas dan akan mengurangi masalah degradasi moral negeri ini.

Kedua,aktif berorganisasi sebagai solusi. Tipe mahasiswa dibagi tiga, yaitu sebagai kupu – kupu (kuliah lalu pulang), kunang – kunang ( kuliah lalu nangkring di kafe dengan agenda gosip atau debat kusir), dan kura – kura (kuliah lalu rapat (berorganisasi)). Dari tiga tipe tersebut pilihan yang akan mampu memberikan solusi adalah kura – kura. Populernya jadilah mahsiswa yang organisatoris – akademis.

Berorganisasi akan melatih kedisiplinan, tanggung jawab, optimalisasi potensi leader, dan sebagainya yang tidak akan diperoleh jika hanya fokus kuliah atau nongkrong di kafe. Saatnya meluruskan paradigma kaku yang beranggapan bahwa berorganisasi akan mengganggu akademik. Seorang organisatoris akan berbeda cara berfikir dan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah dengan seorang non-organisatoris termasuk dalam pencapaian akademik.

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) merupakan miniatur negara. UKM menjadi sarana efektif dalam akselerasi diri agar tidak canggung ketika telah menjadi tokoh publik yang memegang tampuk kekuasaan. Perlu adanya penekanan berorganisasi disini bukan untuk menghabiskan waktu saja atau hanya ingin dikatakan super sibuk, akan tetapi mampu mengambil nilai – nilai positif yang ada.

Ketiga,manajemen diri dan manajemen waktu. Bagian ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Pemberitaan media massa tentang anggota dewan pembolos beberapa waktu lalu cukup menarik perhatian masyarakat. Dari fenomena ini saja dapat dilihat bahwa selain integritas (kejujuran,tanggung jawab,dll) kemampuan manajemen waktu dan manajemen diri juga perlu perhatian khusus. Dapat dipastikan sebutan tidak hormat ini tidak akan terjadi apabila manajemennya bagus. Dengan kata lain, untuk menyelesaikan masalah negeri ini sangat dibutuhkan sosok yang memiliki manajemen waktu dan manajemen diri yang dapat diandalkan.

Keempat,pemimpin yang memilki visi jelas dan terukur. Kepemimpinan sejatinya ada pada setiap manusia minimal menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Dimanapun posisi itu apakah sebagai pemimpin dalam keluarga, menjadi kepala biro, atau orang nomor satu dinegeri ini sekalipun harus memiliki visi yang jelas dan terukur. Sebuah visi tidak hanya sekedar orasi penarik massa dalam masa kampanye tetapi realisasi yang dinanti.

Mengkritisi pemimpin yang secara terang – terangan mengikis kepercayaan rakyat tidak perlu dipertannyakan. Secara tidak langsung ketidakpercayaan itu sendiri yang diinginkan. Kongkritnya,kasus korupsi yang menjamur tidak kunjung selesai dan penuh sandiwara. Lama kelamaan menghilang tanpa ada kejelasan dengan pengalihan isu. Ironis.

Manusia yang berarti khilaf dan lupa perlu diingatkan kembali terhadap tujuan menjadi pemimpin. Bagi pemimpin hari ini sangat diharapkan untuk kembali pada visi awal. Khususnya mahasiswa yang akan menjadi pemimpin untuk memperbaiki visi dalam rangka menjadi solusi.

Upaya preventif membutuhkan waktu yang relatif lama menjadi bagian dari solusi. Melihat kondisi saat ini sangat diperlukan upaya represif dalam menyelesaikan gejolak negeri sebagai upaya langsung dari pemuda yang sedang “tumbuh”. Ada dua hal yang dapat dilakukan sebagai upaya represif,yaitu:

Pertama, menjalin keakraban dengan keluarga. Sekilas terlihat ini sebagai upaya preventif tetapi cukup ampuh menjadi upaya represif. Hakikatnya, keluarga sangat berpengaruh kuat baik dirumah maupun dilingkungan pekerjaan. Sosok anak tidak hanya butuh diingatkan tapi juga mengingatkan orangtua dalam kebaikan. Disinilah dituntut peran aktif sebagai anak terutama bagi orangtuanya yang menduduki posisi  strategis saat ini. Positifnya orangtua akan berpikir dua kali untuk menafkahi keluarga dengan hasil korupsi. Sebab tidak akan ada orangtua yang ingin merusak keakraban dengan kelurga dengan harta hasil korupsi dan bersenang – senang diatas penderitaan orang lain. Apabila setiap anggota keluarga memahami arti pentingnya keakraban dan saling mengingatkan maka rasa optimis permasalahan negeri ini bisa diwujudkan.

Kedua, melawan dengan intelektual. Aksi protes yang sering berakhir anarkis bukanlah jawaban. Sejauh ini aksi protes dengan turun ke jalan tidak membawa perubahan yang signifikan. Saatnya aksi protes secara intelek misalnya membentuk forum diskusi, menulis, dan sebagainya. Meskipun terlihat sudah ada “perlawanan” secara intelek tetapi persentasinya sangat kecil dibandingkan sumber daya mahasiswa di Indonesia.

Kebebasan berpendapat telah diatur dengan tegas dalam konstitusi. Misalnya dalam hal menulis selain mengkritisi juga sangat bermanfaat sebab menulis itu berawal dari membaca ( literatur dan kejadian) dan diskusi. Budaya menulis tidak hanya “milik” pakar ilmu sosial, politisi, ahli hukum, dan sebagainya tetapi saatnya mahasiswa juga melakukan hal yang sama.

Upaya preventif dan upaya represif menjadi bagian terpenting dalam menyelesaikan permasalahan negeri ini. Upaya preventif merupakan tindakan awal menjadi bagian solusi permasalahan degradasi moral (integritas). Namun, proses yang relatif panjang (upaya preventif) kurang efektif untuk menyelesaikan gejolak yang sedang terjadi dengan cepat. Sehingga menuntut adanya upaya represif sebagai tindakan langsung mewujudkan perubahan.

Berbagai teori untuk menyelesaikan permasalahan bukan hal baru. Mulai dari opini para mahasiswa sampai pakar sekalipun mengkritisi objek yang sama. Sebab yang dinantikan tetap inplementasi dari teori. Saatnya  menunjukkan keberanian untuk mengatakan saya bukan generasi pewaris jika tidak bisa menjadi bagian dari solusi permasalahan negeri.

Diterbitkan di: on 6 Oktober 2011 at 5:51 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Saya Bukan Pewaris Negeri

Sesuatu Untuk Indonesia

Diterbitkan di: on 6 Oktober 2011 at 5:50 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Kota Padang Kujaga & Kubela,benarkah??

Upaya Pembenahan Lalu lintas Kota Padang

Melalui catatan sejarah, umat manusia telah berjuang untuk kebebasan, kemerdekaan, dan mobilitas. Secara massal  dua hal yang pertama (kebebasan dan kemerdekaan) telah dijamin oleh negara demokratis. Walaupun realitanya masih terdapat penindasan serta pengekangan terhadap kebebasan manusia itu sendiri. Disamping itu, mobilitas juga tidak kalah penting untuk dibahas dengan segala kompleksitas permasalahan yang ada.

Kompleksitas permasalahan ini muncul saat manusia tidak lagi hanya terkungkung dalam suatu wilayah. Manusia telah berfikir untuk melakukan perjalanan yang jauh. Sehingga kebutuhan terhadap transportasi semakin meningkat. Kebutuhan itu juga yang mendorong manusia untuk berinovasi dalam “kemudahan” perjalanan.

Perjalanan pada mulanya dilakukan secara manual (berjalan kaki). Seiring jarak tempuh yang semakin jauh muncul kebutuhan  terhadap transportasi yang lebih baik. Pada awalnya, alat transportasi hanya bertumpu pada tenaga hewan seperti pedati, bendi, kuda, dan sebagainya. Berdasarkan kebutuhan mobilitas yang semakin jauh dan meluas maka diciptakan kendaraan yang menggunakan tenaga mesin[1].

Disisi lain, kemajuan transportasi memunculkan gangguan. Tidak jarang kenyamanan berkendara malah membuat pusing dan membosankan. Bahkan banyak waktu yang dikorbankan sebagai dampak negatif dari arus lalu lintas yang kurang kondusif.

Faktor pendukung permasalahan tidak hanya semakin jauhnya jarak tempuh. Akan tetapi kepadatan populasi (densitas) juga tidak kalah penting dalam memicu kesibukan yang berkaitan dengan  transportasi.  Sederhananya, di daerah marjinal arus lalu-lintas tidak serumit yang ada diperkotaan.

Permasalahan arus lalu lintas tidak akan pernah berakhir selama manusia itu ada. Dalam hal ini wilayah perkotaan cukup representatif.  Keberhasilan dalam menata arus lalu lintas merupakan salah satu indikasi kelayakan kota. Semakin lancar arus lalu lintas, semakin sukses program pembangunan transportasi wilayah perkotaan.

Secara global permasalahan transportasi perkotaan bukanlah hal yang baru. Akan tetapi tetap fenomenal sampai saat ini. Jika ditelusuri lebih jauh permasalahan itu tidak terlepas dari kemacetan. Sekilas dapat dikatakan klasik tapi “unik”. Ini dikarenakan kemacetan merupakan satu kata yang cukup rumit jalan penyelesaiannya.

Tentunya permasalahan ini tidak terlepas dari pertumbuhan penduduk yang berbanding lurus dengan transportasi. Artinya, pesatnya pertumbuhan penduduk perkotaan, semakin tinggi pemintaan terhadap alat angkutan baik transportasi pribadi maupun umum. Akhirnya, arus lintas yang sesak dan tidak beraturan tidak bisa dihindari. Sederhananya, dengan isu nasional saat ini kemacetan dapat dijadikan salah satu alasan pembatasan subsidi bahan bakar minyak (BBM) oleh pemerintah[2].

Kota Padang Dalam Zona Transisi

Secara garis besar  zona ketidaknyamanan berlalu lintas dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: kota metropolitan, kota kecil, dan daerah marjinal. Pertama, kota metropolitan. Ketidaknyamanan dizona ini dipicu oleh kepadatan penduduk dan gaya hidup konsumtif khususnya kendaraan. Kedua, kota kecil. Pada zona ini indikasi gaya hidup konsumtif mulai terlihat. Namun, dizona ini yang perlu menjadi perhatian utama adalah pengelolaan lalu lintas. Ketiga, wilayah marginal. Dalam zona ini ketidaknyamanan bukan difaktori oleh gaya hidup konsumtif apalagi kepadatan penduduk. Pokok masalah dizona ini tidak lain adalah minimnya akses transportasi.

Artinya, ketidaknyamanan berlalu lintas tidak hanya terjadi dikota metropolitan. Kini telah merambah ke kota kecil yang mulai menggeliat. Dan bukan tidak mungkin daerah marjinalpun akan merasakan hal yang sama dalam perspektif yang berbeda. Dan kesimpulannya hanya satu saja yaitu banyaknya waktu yang terbuang sia-sia.

Dari klasifikasi zona tersebut kota Padang menempati posisi transisi dari daerah marginal menuju kota metropolitan. Sebagai kota yang berada dizona transisi selain melakukan pembenahan perekonomian, tata kota, masalah integritas, birokrasi yang berbelit, juga perlu pembenahan lalu lintas secara intensif. Sebab tidak bisa dipungkiri arus lalu lintas adalah akses masuk yang utama dalam beraktivitas.

Potret Arus lalu lintas kota Padang

Potret lalu lintas kota Padang beberapa tahun terakhir sangat riskan sekali. Ironis, untuk ukuran sebuah kota arus lalu lintas belum memadai. Indikasi ini terlihat dari peresentase kecelakaan yang terjadi, penataan jalur kendaraan yang kurang berkualitas, sarana prasarana yang belum memadai termasuk transportasi umum, “terminal” yang tidak ada, parkir sepanjang jalan, dan sebagainya.

Meskipun permasalahan lalu lintas kota Padang tidak sekompleks kota metropolitan seperti Jakarta. Namun, bukan berarti tidak perlu pembenahan secara intensif. Tak  dapat dipungkiri, kondisi kota besar hari ini berawal dari permasalahan sepele yang telah “mendarah-daging”. Lama – kelamaan embrio permasalahan itu akan tumbuh subur di”sepanjang jalan”.

Penataan jalur kendaraan kota Padang merupakan permasalahan strategis. Dampak buruk terlihat pada tingginya persentase kecelakaan lalu lintas. Singkatnya, kecelakaan lalu lintas merupakan kata yang biasa digunakan untuk menguraikan kegagalan kinerja satu atau lebih komponen pengendaraan dan penataan jalur lalu lintas, yang mengakibatkan kematian, luka badan, dan/atau kerusakan harta benda.

Umumnya, tempat – tempat yang berpotensi kecelakaan tinggi dikawasan perkotaan disebabkan oleh densitas perkotaan yang tinggi dan dominasi persimpangan. Untuk kota Padang yang pemicu utama bukanlah densitas yang tinggi tetapi kontruksi jalan raya kota padang yang sempit dan dominasi persimpangan, baik pesimpangan jarak pendek maupun panjang.

Disisi lain, fenomena parkir sepanjang jalan juga memicu kegagalan penataan jalur kendaraan. Layaknya puzzle, aktivitas lalu lintas saling mengisi dan menopang agar keutuhan dan keindahan dapat tercipta. Jika ada bagian puzzle yang berada diposisi yang tidak seharusnya maka akan terjadi ketimpangan yang juga berpengaruh pada yang lain secara keseluruhan.

Sebagai contoh salah satu lokasi parkir yang sering dimanfaatkan oleh angkutan kota dapat dilihat di jalan tarandam. Dimana, angkot rute pasar raya – gunung pangilun via jati II selalu parkir dipinggir jalan persimpangan pendek untuk menunggu penumpang. Fatalnya, sangat mengganggu perjalanan transportasi dari dan ke pusat kota.

Pembenahan Arus Lalu Lintas Kota Padang

Parasitisme system berlalu-lintas dibutuhkan keseriusan dari berbagai pihak. Baik kesadaran dari pengguna harian fasilitas jalan raya, pemerintah kota sebagai penyelenggara, pedagang asongan, maupun golongan intelektual dengan segala pemikirannya. Khusus untuk jalan raya keterlibatan semua pihak tentunya dapat mengakselerasi cita – cita pembenahan.

Dari berbagai permasalahan lalu lintas kota yang ada, diperlukan enam ikon strategis dalam rangka perwujudan arus lalu-lintas kota yang lebih baik. Ikon strategis ini dilihat dari secara fisik maupun non-fisik.

Pertama, penataan jalur berlalu-lintas berdasarkan jenis kendaraan. Berbicara masalah penataan ini sangat erat kaitannya dengan upaya preventif dalam menurunkan persentase kecelakaan. Tidak bisa dipungkiri, bahwa terjadinya kecelakaan 80% diakibatkan oleh sikap pengendara. Sikap yang tidak sabar dalam berlalu-lintas dan suka menyerempet kendaraan lain lebih mendominasi.

Ketidaktertiban itu juga terlihat dari banyaknya jenis kendaraan yang menempuh jalur yang sama pada waktu yang bersamaan. Kongkritnya, bus kota, angkutan kota, sepeda motor, bahkan bendi tergabung dalam satu jalur. Pencampuran inilah yang sering menimbulkan kecelakaan lalu-lintas karena bagi kendaraan yang lebih kecil akan mencari celah untuk bisa mendahului. Secara tidak langsung akan mempengaruhi tingkat konsentrasi pengendara lain.

Pemisahan jalur bagi masing – masing kendaraan dapat membantu ketertiban berlalu-lintas.  Mengingat lebar jalan raya kota Padang yang kurang memadai, pemisahan jalur tersebut cukup berdasarkan porsi saja. Misalnya, jalur untuk angkutan kota dan kendaraan pribadi dijadikan satu jalur dan untuk sepeda motor termasuk sepeda dan bendi juga berada pada jalur yang sama.

Kedua, pengawasan persimpangan baik jalur pendek maupun panjang. Selain tidak adanya pemisahan antara jenis kendaraan, kecelakaan lalu-lintas juga dipicu oleh minimnya terhadap pengawasan persimpangan jalan. Seperti yang kita lihat, persimpangan merupakan titik rawan terjadi kecelakaan.

Sementara kasus ini bisa  disiasati dengan penjagaan secara intensif oleh polisi lalu-lintas (polantas). Keberadaan polisi lalu-lintas sangat membantu kelancaran arus lalu lintas. Dan akan memberikan efek positif bagi pengendara untuk lebih sopan dalam menggunakan jalan raya.

Ketiga, peningkatan kuantitas dan kualitas rambu-rambu lalu lintas. Sangat disadari bahwa keberadaan polisi tidak mungkin sepanjang jalan. Hal ini dapat diatasi dengan peningkatan kualitas dan kuantitas rambu-rambu lalu-lintas baik rambu besar maupun yang kecil. Fungsi rambu – rambu besar (tinggi) membantu pengendara untuk mengetahui kondisi fisik jalan raya yang ada didepannya. Output yang ingin dicapai adalah peningkatan kewaspadaan pengendaraan dalam setiap kondisi.

Keempat, pengadaan dan optimalisasi terminal. Keberadaan terminal sangat membantu ketertiban lalu-lintas kota. Tersedianya terminal yang layak untuk kendaraan dari dan ke pusat kota membantu dalam ketertiban lalu-lintas. Riskan sekali, pasar raya kota Padang telah menjelma menjadi terminal. Akibatnya, banyak kerugian yang ditimbulkan baik secara kasat mata maupun tidak.

Secara tidak langsung kondisi ini akan menghambat perekonomian daerah. Pasar tradisional sebagai sentral kegiatan meningkatkan perekonomian akan kehilangan “ruh”. Sebab konsumen lebih cenderung beralih ke plaza, supermarket, dan sejenisnya dengan segala kenyamanan yang ditawarkan. Dan bukan tidak mungkin, kendaraan yang simpang siur ini akan menurunkan kualitas pasar tradisional dalam menjalankan fungsinya. Imbasnya, pedagang kecil akan semakin terpuruk karena tidak ada lagi konsumen yang mau “melirik”.

Kelima, sinergisitas semua pihak membangun kesadaran masyarakat dalam berlalu-lintas. Kesadaran masyarakat dalam berlalu-lintas merupakan permasalahan utama dan pertama. Meskipun, klasik tetapi masih sangat fenomenal. Sejak dulu permasalahan ketidaksadaran ini selalu dibicarakan, bahkan sudah memasuki era reformasi-pun permasalahan ini tetap ada.

Untuk memunculkan kesadaran tersebut tidak akan terlepas dari kerjasama semua pihak, baik polisi, aparatur pemerintah kota, dan kesadaran internal dari setiap individu. Dimana pemerintahan kota  berada diposisi sebagai pembuat kebijakan (regulasi), kemudian diselenggarakan dan diawasi secara total oleh pihak kepolisian (dalam hal ini polisi lalu-lintas), dan yang tidak kalah penting dukungan secara penuh oleh masyarakat dalam mencapai ketertiban arus lalu-lintas.

Keenam, pengenalan sedari dini tentang Electronic Road Pricing (ERP). Meskipun penerapan ERP ini masih menjadi isu untuk kota metropolitan seperti Jakarta bukan tidak mungkin kota Padang akan menuju kondisi ini. Pengenalan ERP sedari dini bisa membantu pemkot Padang untuk lebih antisipatif dalam pengelolaan arus lalu-lintas.

Electronic Road Pricing (ERP) merupakan sebuah system pengaturan lalu lintas kendaraan dengan cara menerapkan system kendaraan berbayar bagi kendaraan yang akan melewati jalan – jalan tertentu. Dalam penerapannya, setiap kendaraan akan dipasangkan sebuah alat (invehicle unit) yang berisi informasi nominal deposit yang akan berkurang jumlahnya setiap kali melewati kawasan pemberlakuan ERP.

Setiap kawasan tersebut akan ada semacam gerbang masuk dengan sensor otomatis yang berfungsi sebagai kasir elektronik, yang akan mengurangi jumlah nominal deposit yang dimiliki kedaraaan yang melewatinya. Jadi, seperti jumlah pulsa untuk SMS atau menelepon yang akan berkurang kali melewati kawasan ERP[3].

Upaya arus lalu-lintas kota Padang yang lebih baik sejatinya bukanlah keinginan pemerintah kota saja. Akan tetapi, semua pihak menginginkan kenyamanan dalam mobilisasi terutama kemudahan akses dalam melakukan aktivitas. Sehingga enam ikon yang telah diuraikan diatas mampu menjagi gagasan. Terutama sinergisitas semua pihak dan kesadaran hukum dalam berlalu-lintas menjadi kunci strategis dalam mewujudkan arus lalu lintas kota Padang yang baik.

 

 

 

Daftar Pustaka

Khisty, C. Jotin dan B. Kent Lall. 2005. Edisi ketiga: Dasar – dasar Rekayasa Transportasi Jilid1, Jakarta: Erlangga.

——— 2005. Edisi ketiga: Dasar – dasar Rekayasa Transportasi Jilid 2, Jakarta: Erlangga.

Budi Utomo,” Pemprov DKI Kurang Fokus Soal ERP”, dalam harian Republika, 10 Desember 2010.

Shally Pristine dan Fitriyan Zamzami, “Benahi Transportasi Umum”, dalam harian Republika, 13 Desember 2010.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] C. Jotin Khisty, B. Kent Lall, Dasar – dasar Rekayasa Transportasi, Jilid 2 (PT Gelora  Aksara Pratama), Edisi ketiga, hal. 96-97.

[2] Republika edisi senin, 13 Desember 2010, Benahi Transportasi Umum, no. 328/Tahun ke-18, hal. 1.

[3] Republika edisi  Jum’at, 10 Desember 2010, Pemprov dki kurang Fokus Soal ERP, hal. 21.

Diterbitkan di: on 11 Januari 2011 at 8:50 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Masih Adakah Pemimpin?

Menyingkirkan ‘Kursi Goyang’ Pemimpin

Pemuda (baca: mahasiswa) menempati posisi strategis sebagai aset masa depan. Layaknya sesuatu yang berharga dipandang perlu adanya penjagaan secara maksimal. Penjagaan ini bukan berarti paradigma yang kaku. Akan tetapi tindakan untuk menumbuhkan rasa memiliki (sense of belong) terhadap tanah air. Agar generasi penerus tidak mengambil bagian dalam memperburuk citra pemimpin.

Pemuda hari ini adalah pemimpin periode berikutnya. Periode kepemimpinan yang dapat bergerak dan menciptakan perubahan signifikan. Bukan lagi bertemakan stagnansi janji politis  dan nikmatnya ‘kursi goyang’ kepemimpinan seperti beberapa periode terakhir.

Disisi lain, menurunnya kualitas kepercayaan masyarakat kepada pemimpin diibaratkan senjata makan tuan. Akar masalah dari krisis ini difaktori ketidakmampuan menunjukkan integritas moral pemimpin. Dampaknya semakin menjamur pemimpin, semakin kompleks masalah yang muncul.

Melihat posisi sosok pemimpin beberapa waktu terakhir dapat dikatakan tidak banyak yang peduli. Seolah – olah tidak terjadi sesuatu yang sedang mengancam. Sebab secara kasat mata kursi kepemimpinan masih berdiri kokoh. Ini terbukti dengan semakin panjangnya antrian “pemimpin” yang siap menggantikan.

Apabila disorot kualitas yang di’tawar’kan sangat memprihatinkan. Kongkritnya, hanya dengan pembuktian sederhana saja sudah dapat dilihat kualitas yang dimiliki. Munculnya beberapa wajah  wakil kita diberbagai media beberapa waktu belakangan cukup dijadikan sebagai uji kelayakan yang sebenarnya. Mulai dari kasus korupsi yang menduduki rating tertinggi hingga dewan pembolos. Sangat memprihatinkan ‘tenar’nya wakil kita bukan karena prestasi melainkan karena sikap egois.

Berbicara perilaku wakil kita sebagai pemimpin yang telah menjadi pusat perhatian memang terkesan memojokkan. Berita ini bukan rahasia lagi karena realita telah memaparkan secara jelas. Awal Agustus 2010, salah satu surat kabar berskala nasional memberitakan tentang dewan pembolos. Politisi yang suka membolos pada hakikatnya tidak hanya berdampak secara pribadi. Tanpa disadari para dewan telah mengabaikan amanah yang telah ditompangkan oleh rakyat.

Perilaku suka membolos ini selain berpengaruh terhadap kinerja dewan dalam penyusunan undang – undang (legislasi) juga akan berpengaruh pada fungsi pengawasan (controlling) dan fungsi anggaran (budgeting). Kita lihat proses pengusutan kasus skandal century yang diawasi DPR sampai saat ini belum juga menemukan titik terang. Ada cerita lain dengan fungsi anggaran. Pemimpin lebih “kreatif” dalam membuat anggaran untuk  kepentingan pribadi daripada kepentingan publik. Sehingga tidak dapat dielakkan lagi sikap tersebut telah menimbulkan kontroversi terkait usulan dana aspirasi  dan pengajuan dana renovasi gedung DPR yang mencapai miliaran rupiah[1].

Menariknya hanya dengan membolos beberapa  dewan saja sejumlah rapat dan agenda lain harus ditunda. Meskipun tetap dilaksanakan secara fisik  seringkali tidak memenuhi kuota forum (kuorum), karena banyak anggota yang titip absen dan membolos. Secara logika dengan melakukan korupsi waktu saja dapat menimbulkan dampak secara luas, kemudian bagaimana akibat melakukan korupsi uang.

Mencermati ‘prestasi’ pemimpin beberapa periode terakhir saatnya membuka cakrawala dan berfikir jauh kedepan. Pemuda (terutama mahasiswa) sebagai pelanjut estafet kepemimpinan dapat memberikan perubahan yang lebih baik. Bukan menjadi generasi yang akan mewarisi budaya menikmati asyik ‘kursi goyang’ saja.

Untuk itu perlu adanya optimalisasi potensi dan mengasah jiwa kepemimpinan yang solid sedari dini. Sebelum secara nyata berada ditampuk kepemimpinan. Dengan menelaah akar permasalahan kepemimpinan yang pelik, secara sederhana ada beberapa hal yang harus dilakukan serta diinternalisasi kedalam diri para pemimpin dan pemilik masa depan.

Pertama, menyeimbangkan fungsi spiritual, emosional, dan intelektual. Ketidakseimbangan ketiga fungsi ini merupakan jawaban dari krisis kepemimpinan. Realitanya secara akademik sebagian besar kemampuan pemimpin kita tidak diragukan lagi. Bahkan tidak sedikit yang bergelar professor baik dari dalam maupun luar negeri. Akan tetapi faktanya gelar akademis dan kekayaan intelektual saja bukanlah jaminan untuk menjadi pemimpin sejati. Sebab tidak jarang masalah yang muncul adalah ulah orang berdasi (white collar crime).

Keseimbangan ketiga fungsi ini harus diinternalisasi secara sempurna pada setiap pribadi generasi muda. Sebagai pemilik masa depan tugasnya tidak cukup dengan memperkuat intelektual saja. Tidak cukup hanya pintar secara individu, tetapi juga memiliki kepekaan untuk merasakan ( fungsi emosional), serta membentengi diri dengan nilai – nilai spiritual agar suara hati tidak terbelenggu.

Mengenali Allah dan mendengarkan suara hati merupakan cara mengasah kemampuan spiritual. Perasaan takut dan merasa selalu diawasi oleh Allah (muraqabah) hanya muncul ketika mengenal Allah. Sehubungan dengan itu mendengarkan hati nurani adalah satu – satunya jalan merealisasikan anggukan universal terhadap nilai kebenaran. Apabila hati nurani telah menjadi penguasa dalam diri seorang pemimpin maka mental kepemimpinan (rasa tanggung jawab, visioner, adil,dan sebagainya) akan muncul dengan sendirinya.

Korelasinya terlihat ketika memegang tampuk kepemimpinan. Kemampuan intelektual dapat mencarikan solusi kreatif dari permasalahan. Sedangkan fungsi emosional terdeskripsi dalam kecekatan mencari solusi dan menghitung resiko. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemampuan menghitung resiko yang ber’kiblat’ diatas kepentingan rakyat merupakan salah satu jelmaan nilai spritiual yang dimiliki.

Kokohnya kemampuan spiritual dapat memberikan efek positif dalam mengasah kemampuan emosional dan intelektual. Suara hati baru akan dapat dilihat saat emosional berfungsi. Disisi lain, juga akan muncul kreativitas sebagai implementasi dari kemampuan intelektual. Satu kalimat kunci bahwa keseimbangan ketiga fungsi inilah modal paling utama dalam mempengaruhi (memimpin).

Kedua, mengasah potensi kepemimpinan dengan berorganisasi. Eksistensi organisasi baik intra departemen pendidikan (misalnya UKM) maupun organisasi departemen pendidikan (Karang Taruna,LSM) memiliki tujuan yang sama. Kesamaannya terletak pada value yang ingin diberikan yaitu penguatan karakter kepemimpinan dan kepekaan menyelami karakter orang lain.

Penguatan karakter kepemimpinan yang ingin dicapai tidak lain adalah nilai utama yang harus dimiliki calon pemimpin. Nilai utama tersebut tidak akan pernah terlepas dari tanggung jawab, kreatifitas dalam menyelesaikan masalah, berfikir kritis yang solutif, dan sebagainya. Begitu juga dalam menumbuhkan emosional sebagai modal untuk memahami orang lain. Suatu kemampuan untuk bergerak kooperatif dalam suatu komunitas melakukan perubahan signifikan.

Kegiatan/organisasi memberikan dampak positif sebagai sarana untuk mengembangkan potensi diri dan mental kepemimpinan. Riskan sekali jika generasi muda tidak memiliki perbekalan menuju ‘hari esok’. Apalagi masih dibalut kegamangan ketika tidak ada lagi “motor penggerak”. Padahal kita para generasi penerus dituntut akan membawa perubahan selangkah demi selangkah ke dunia internasional.

Keterlibatan dalam suatu kegiatan (organisasi) hanya wadah pengisi waktu luang. Atau berorganisasi hanya untuk dikenal sebagai ‘aktivis’ saja. Secara langsung itu bukan jawaban calon pemimpin apalagi pemilik masa depan. Dengan kata lain, generasi muda yang tidak mampu memaknai berorganisasi apalagi tidak pernah berorganisasi bukanlah termasuk aset masa depan. Sebab secara logika apa yang akan diberikan kepada orang lain, sedangkan dia sendiri tidak memiliki apapun.

Ketiga, memiliki tujuan yang jelas dan komitmen. Ibaratkan menaiki tangga kepemimpinan maka tujuan akan berada pada tingkatan teratas. Kita sering tertipu dengan tujuan secara tersurat. Dan terkadang tidak jarang terbawa arus dengan ‘ungkapan tujuan’ dalam janji – janji politis. Kini saatnya mencermati bahwa tujuan yang sebenarnya dapat dilihat dalam aplikasinya.

Pemilik masa depan yang sukses adalah orang komitmen yang (baca: fokus) pada tujuan pembenahan terhadap masa depan itu sendiri. Banyaknya penyimpangan yang terjadi merupakan akibat lemahnya titik fokus. Agar tujuan itu dapat dijaga maka kata fokus tidak dapat diabaikan sebagai kendali utama.

Akhirnya, ditarik kesimpulan bahwa semakin rawannya krisis kepemimpinan dengan modus yang sama bukan disebabkan melemahnya intelektual. Bukan juga dilatarbelakangi awam dengan perkembangan teknologi. Setelah dicermati, fenomena ini berkaitan erat dengan terbelenggunya moral dan budi utama seorang pemimpin (integritas). Terbelenggunya nilai – nilai tersebut karena suara hati lebih didominasi oleh sikap egois dan hilangnya titik fokus.

Secara jelas dapat dilihat bahwa keseimbangan fungsi spiritual, fungsi emosional, dan fungsi intelektual merupakan pondasi paling utama. Kemampuan menyempurnakan dan menyeimbangkan fungsi tersebut dan bulatnya titik fokus adalah jawaban mengatasi krisis kepemimpinan dan melahirkan pemimpin yang solid.


[1] Dewan Pembolos, Republika edisi 4  Agustus 2010, hal. 4

Diterbitkan di: on 21 September 2010 at 1:53 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Saatnya Bangkit

Memaknai Subtansi Hari Kebangkitan

Setiap tanggal 20 Mei yang diperingati sebagai hari kebangkitan hendaknya tidak hanya seremonial semata. Akan tetapi bagaimana kita mampu memaknai secara subtansi makna yang ada dibaliknya. Sehingga subtansi hari kebangkitan benar – benar dapat diterapkan dalam langkah mencapai perubahan yang signifikan dan menunjukkan progresif yang baik.

Sedikit menyinggung semboyan Ir. Soekarno dengan jasmerah (jangan sesekali melupakan sejarah) nya perlu ada penegasan. Sebab mengingat sejarah saja tanpa  memaknai secara subtansi sama saja dengan nihil. Kongkritnya, lihat saja bahwa setiap hari bersejarah tidak pernah ketinggalan dengan upacara peringatan, akan tetapi terkesan hanya bersifat seremonial semata.

Menapaktilasi  tentang hari kebangkitan tepatnya pada tanggal 20 Mei 1908, berdirilah organisasi Boedi Oetomo yang dikemudian dikenang sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Saat itu bangkitlah suatu kesadaran tentang kesatuan kebangsaan untuk menentang kekuasaan penjajahan Belanda yang telah berabad-abad lamanya berlangsung di tanah air Indonesia.

Boedi Oetomo pada saat itu, merupakan perkumpulan kaum muda yang cerdas dan peduli terhadap nasib bangsa antara lain diprakarsai oleh: Dr. Soetomo, Dr. Wahidin Soedirohoesodo, dan Dr. Goenawan dan Suryadi Suryadiningrat (Ki Hadjar Dewantara).

Semangat kebangkitan nasional muncul, ketika bangsa Indonesia mencapai tingkat perlawanannya yang tidak dapat dibendung lagi, untuk menghadapi kekuasaan kolonial Belanda yang tidak manusiawi dan tidak adil. Dapat dilihat tentang tekad bangsa untuk bebas dan merdeka dari belenggu kolonialisme dan imperialisme. Sebuah kesimpulan sederhana, Boedi Oetomo yang dikenal sebagai organisasi politik pertama di Indonesia juga patut diambil sisi positifnya dalam semangat perubahan lebih baik.

Mengenai hari kebangkitan nasional sampai saat masih bersifat kontroversial. Sikap tersebut berkembang dengan “baik” terutama dikalangan orang yang memiliki kepentingan. Mengenai hal ini ada yang menyorot tanggal 20 Mei itu seharusnya bukanlah hari kebangkitan nasional dengan argumentasi bijaknya. Ada juga yang mempermasalahkan bahwa Boedi Oetomo bukanlah tonggak yang dapat dijadikan pondasi hari kebangkitan nasional.

Bukan menafikan bahwa setiap hal (baca: sesuatu) itu pasti ada sisi positif dan sisi negatifnya. Sehingga  masalah – masalah klasik yang dapat menghilangkan makna kebangkitan itu sendiri  seharusnya bukanlah menu yang harus dipermasalahkan. Terkesan klise memang jika hanya mempermasalahkan topik sederhana seperti itu.

Jika memang masih tetap menjadi wacana, hendak kita dapat menjadikan moment ini sebagai wacana yang bersifat solutif sebagai pemicu untuk bangkit dari keterpurukan dan keterbelakangan. Jika dilihat secara global masih banyak hal yang harus dibahas apabila dikaitkan dengan moment kebangkitan nasional. Sebut saja masalah degradasi moral generasi penerus, carut marut hukum, kemiskinan yang tidak kunjung bergeser dari peredaran, dan sebagainya.

Implementasi kebangkitan harus dimulai dari yang terkecil dan dari yang terdekat. Mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat (lembaga – lembaga masyarakat), hingga kepada tataran yang lebih tinggi (Negara). Sehingga dengan moment  ini mampu membangkitkan nilai positif dan memupuk rasa tanggung jawab diberbagai bidang.

Dalam hal ini, Beastudi etos Padang sebagai masyarakat (baca:lembaga) yang dipersiapkan untuk mencetak generasi penerus bangsa ini juga memiliki tekad untuk bangkit. We are more than excellent sebagai jargon Beastudi etos memiliki makna untuk melompat lebih tinggi dan tidak hanya sekedar excellent.

Dikaitkan dengan isu yang berkembang dalam rumah tangga Beastudi Etos saat ini adalah kompetisi skala nasional yaitu Temu Etos Nasional (TENs) dan Olimpiade Etos Nasiona (OENs). Program ini tidak hanya pertemuan biasa, namum secara subtansi merupakan ajang kompetisi bagi tiap wilayah penerima manfaat Beastudi Etos seluruh Indonesia untuk mempresentasikan program unggulan tiap daerah serta melihat keaktifan daerah dengan masyarakat dilingkungannya.

Tema yang akan diangkatkan pada temu etos nasional biasanya mengangkat isu  yang dekat dengan masyarakat. Khusus pada TENs 2010 mengangkatkan isu sossial entrepreneur yang bertonggak pada pemuda dengan tema “ Social Enterpreneur Muda untuk Indonesia “.

Dan tentunya dengan moment kebangkitan mampu menumbuhkan semangat perubahan yang signifikan. Sehingga kemenangan dan prestasi merupakan refleksi dari subtansi semangat kebangkitan yang dibangun hari ini.

Sebuah harapan besar menjadikan moment kebangkitan tahun ini sebagai motivasi untuk perubahan yang signifikan serta sebagai wacana yang solutif dalam memaknai kebangkitan itu sendiri. (Ditulis oleh: AD, Infokom Beastudi Etos Padang)

Diterbitkan di: on 31 Mei 2010 at 9:36 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Narasi

Aku Pasti Kembali

Sinar mentari pagi menerpa kristal – kristal bening di ujung dedaunan. Kicauan burung terdengar syahdu  menyambut sinar kehidupan. Seakan – akan mengucapkan salam dihari pertamaku menikmati aura pedalaman provinsi Jambi. Pandanganku menyapu setiap sudut alam. Jauh diujung pandanganku menghujam segerombolan domba dihalau anak kecil bertelanjang dada. Kira – kira berusia tujuh tahun. Sebuah ranting menari – nari ditangan kurusnya. Dan terhenti menikmati permadani alam yang terhampar luas : padang rumput. Uhh… pasti tempat itu sasaran dombanya. Ternyata tebakanku tidak melesat. Terlihat jelas ayunan langkahnya memasuki hamparan yang menghijau. Subhanallah, sungguh indah karya-Mu ya Rabb. Kesejukan merasuki sumsumku. Pandanganku tak merasakan kejenuhan. Aku terhipnotis, takjub.

Dipadang rumput pedalaman ini aku merasa pengembara, sepi tak berpenghuni. Desahku semakin panjang.

“ Lamo nian, atuk lihat bujang temenung, sedak pikie apo?”

“ Eh.. oh.., atuk “ jawabku setengah kaget.

“Tak eloklah temenung pagi – pagi buto”.

“Bujang tak pikie apo – apo, atuk. Bujang senang diam disini.”

“Eloklah. Kalo macam tu Atuk ambik getah dulu”. Sembari berlalu.

Mataku mengekori setiap langkah atuk kudi. Di usia senja ayunan langkahnya masih menyisakan ketegaran. Enam orang anak menuntutnya untuk membanting tulang. Ah.. mengingatkan pada sosok ayahku yang telah dipanggil-Nya. Stroke yang menyerangnya selama satu tahun, harus berakhir ketika usiaku tujuh tahun.

“ Engkau begitu tegar, atuk. Kebaikanmu tidak akan sia – sia”. Batinku.

*************

Ku tatih kaki menaiki tangga satu demi satu. Rumah panggung yang sudah uzur berlantai papan, disinilah aku tinggal bersama empat orang temanku. Kulayangkan pandangan, tiba – tiba  mataku beradu dengan kepala harimau yang sudah kering. Bulu romaku tersentak, seolah – olah gaya magnetis menarik cepat.

“ Bujang, liat apo?”

“ Ndak.. ndak apo – apo, amak. Bujang baru balek dari bawah”. Jawabku menyembunyikan    kengerian.

“ Eloklah Bujang ambik makan dulu”.

“ Iyo, amak. Bujang nak bawo Bujang – bujang laen dulu”.

Kebaikan hati atuk kudi dan istrinya perlahan – lahan menghilangkan kengerianku. Aura hutan belantara yang mengelilingi daerah ini, berangsur memberikan kenyamanan bagiku. Satu amanah almamater melunturkan pesimisku. Pikiran sempit harus kujadikan debu, agar angin optimis mengikis habis tak bersisa.

*****************

Rotasi waktu terus merangkak. Tanpa terasa sudah tiga hari, aku leluasa menghirup udara segar disini. Begitu jauh berbeda dengan udara kota dengan polusi yang bervariasi. Mulai dari polusi pabrik, angkutan kota, busway, sepeda motor, rokok, dan dari sumber polusi lainnya. Taman – taman kota tidak sanggup lagi menyerap karbondioksida untuk berfotosintesis dan menghasilkan oksigen. Keindahan hanya terdiskripsi pada gedung – gedung pencakar langit yang menjulang angkuh.

“ Fren, loe betah ga’ sich tinggal disini, mana ga’ bisa calling-an lagi?” piyu memecah sepi.

“ Ya, gue sich nevermind, karena rumah nenek gue juga ga’ jauh beda”.

“ Iya, gue ngerasa ada aura aneh, apalagi diruang tamunya ada kepala harimau, hiii…”.

“ Hus… jangan ngomong macam – macam, ntar kesambet lho” tegurku

Ucapanku membuat semua terbungkam, hanyut di bawah selimut masing – masing. Senyumku mekar memikirkan apa yang mengitari benak mereka, takut. Di bawah cahaya petromak kucuri pandang mernyusuri wajah mereka. Lucu.

“ tok.. tok…tokkk”.

“ Awwwwwwwwwwwwwww…..”. serentak menjerit.

“ Ha… ha..rimau…!!!” teriak deni.

“ Ini atuk, Bujang. Boleh atuk masuk?”.

“ I… i..ya, boleh atuk”, jawabku.

Beberapa detik berselang detak jantung belum juga normal, meski desiran darah mulai mengalir tenang. Cahaya petromak mewakili perasaan kami masing – masing bersama atuk kudi. Pertanyaan demi pertanyaan bertengger dbenakku.

Malam terus merangkak, jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.45. Terdengar irama tenggorokan Deni, Jaka, dan Piyu menggiring malam yamg kian dingin. Kulirik Benny, terlihat gelisah menyita malamnya . Aku tidak mengusiknya. Lama menerawang, mataku enggan terpejam. Pelepasan KKN di auditorium tiga hari lalu menari – nari dipelupuk mataku. Aku harus berbuat sesuatu membatin.

***************

Pertemuan dengan pemimpin dusun tadi malam menikamku. Apalagi sejak kami tinggal disini, langkah kaki aneh selalu mengitari sekeliling rumah atuk kudi. Semburan pasir dan suara tak karuan berakhir mejelang pertengahan malam. Apa sebenarnya yang terjadi? Fikiranku berkecamuk. Malam ini penasaranku semakin memuncak. Aku coba mengibas selimut perlahan dan berjingkrat seperti maling. Aku mencari celah dan mengitari arah langkah aneh itu. Namun hanya hitam pekat yang kutemukan. Tiba – tiba dingin menyerangku. Setelah dua jam bagai dedektif Conan dibalik celah, usahaku tidak membuahkan hasil. Ah gagal. Malam berikutnya kesialan mengungkap misteri itu tetap nihil.

Kekentalan animisme dan dinamisme memberikan kerikil tajam bagi kami. Asumsi terhadap anak kota dianggap sebagai pembawa sial. Perusak idealisme nenek moyang mereka.

“ Vin, loe yakin dengan rencana kita ?” Jaka membidikku.

“ Iya fren, jangankan orang lain, anak atuk kudi aja mencap kita pembawa sial”. Piyu menimpali.

“ Gue anggap kita semua udah dewasa dan mampu befikir positif”. Beberapa saat kemudian

“ Iya, benar”, dukung Benny.

“ Tapi…”,

“ Gue berharap kita disini tidak hanya bermotif nilai, tapi ajang membangkitkan jiwa sosial juga”.  jelasku

“ Dan satu lagi, waktu kita masih tersisa kira – kira tiga setengah bulan lagi. Teman – teman tentunya faham dengan kondisi itu”, Deni buka suara.

“ Dipedalaman seperti ini sulit diakses, jadi mumpung kita masih disini. Siapa lagi sebagai agent of change itu?”.

“ Teman – teman yakin, sepulang dari sini akan ada schedule lagi untuk mengunjungi pedalaman seperti ini?” Semua membisu.

“ Memang kita miskin materi kita tidak punya apa – apa, tapi kita masih bisa merealisasikan ide”, terangku panjang lebar.

Kulihat Jaka dan Benny saling berpandangan. Aku berharap mereka andil dalam perintisan pembangunan Koperasi Unit Desa ( KUD ) dan sekolah setingkat SD. Sejak pembentukan “tim marjinal bangkit”, aku terpilih sebagi ketua. Teman – temanku merasa segan dan sering mempertimbangkan usulanku.

*****************

Sebuah batu besar jika dipukuli terus menerus dan diterpa hujan – panas maka lama kelamaan akan hancur menjadi tanah. Begitu juga dengan pemimpin dusun, berkat lobi dan negosiasi Jaka yang full action, ternyata Allah mempertemukan hati mereka. Peletakan tonggak pertama, untuk pembangunan SD dan disusul oleh KUD hanya dihadiri oleh keluarga atuk kudi, kecuali Bayan anak tertuanya. Diujung sana juga terlihat pemimpin desa manggut – manggut dengan kostum kebesarannya berkolaborasi dengan 10 orang penduduk lainnya. Lelehan keringat menjadi saksi bisu perintisan dipedalaman ini.

*****************

Waktu terus menciut, sisa waktu kian menipis. Rencana empat bulan lalu, telah terjawab oleh waktu. Meskipun belum mencapai titik sempurna, namun melihat kebekuan hati penduduk yang mulai luntur. Optimis meyakinkanku bahwa perintisan ini akan mencapai kesempurnaan.

Sinar matahari menerobos celah dedaunan. Sebelum waktu sholat dhuha, kami akan kembali ke pangkuan almamater. Terasa berat meninggalkan pedalaman yang semakin hari menunjukkan pencerahan ini. Tumpukan barang menggunung diberanda depan. Kulayangkan pandangan ke bawah tangga terlihat 10 buah durian hasil perkebunan. Buah tangan dari atuk kudi untuk kami.

“Atuk dan amak. Maso tak izinkan awak nak diam disini. Bujang nak balek ke kota”,

“ iyo, atuk. Awak harus balek. Budi baek tak awak lupa. Terimo kasih, atuk”, sambung Deni

Tiba – tiba :

“ Fren, itu mereka ngapain? Jangan – jangan kita mau diserang lagi”. Seru Jaka .

Semua pandangan mengikuti telunjuk Jaka. Terlihat pemimpin desa dan rombangannya tergesa – gesa mendekati kami. Jantungku berdegub kencang. Ada apa ini ucapku membatin. Fikiranku berkecamuk tak karuan. Suasana semakin tegang, tak satupun yang buka suara. Rombangan semakin dekat, satu persatu anggota rombangan menaiki tangga, dan ada yang tetap bertahan di bawah panggung karena gubuk telah sarat.

“ Bujang, atuk denga ndak balek ke kota, tak betokah?”, pertanyaan itu membuatku lega.

“ I.. iyo, atuk. Awak udah habis masa diam disini”. Jawabku berusaha rileks

“ Kalo Bujang – Bujang habis masa, siapo nak lanjutkan bangunan itu?”’ semabari menunjuk bangunan kayu tepat di depan gubuk yang masih terbengkalai.

“ Ma’afkan awak atuk, awak harus sambung sekolah lagi”.

Suasana membisu, semua terhanyut dengan perasaan masing – masing. Aku tidak tahu pemberontakan apa yang terjadi dibatin mereka. Pandanganku menangkap tetesan bening menyusuri wajah Bayan. Anak atuk kudi yang tidak jauh berbeda dengan usiaku. Penyesalan dan kesedihan tergambar diwajahnya. Wajahnya mengingatkanku pada langkah aneh dan mantra – mantra tengah malam.

“ Atuk, awak harap atuk lanjutkan rintisan bangunan tu”,

“ Iya atuk, isuk – isuk awak nak tempuh jugo kesiko”, timpal Jaka meyakinkan.

***********

Selembar koran harian mengisi pagiku. Bak elang yang mengincar anak ayam mata tertancap pada satu title, ledakan bom di dua hotel mewah di kawasan mega kuningan: Ritz Calrton dan  JW Marriot. Kemudian menyusuri informasi lain. Tiba – tiba penasaran menguasai ku, melihat tulisan  “ Anak Kota, Menyulap Pedalaman Jambi “. Aku semakin konsentrasi mengunyah tulisan itu. Dibagian bawah terlihat ditulis oleh Reka Anggara, S.H. alumni 1999 SD Jaya,pedalaman Jambi. Tanpa disadari airmataku meleleh. Ya, Allah, Engkau maha kuasa atas segala sesuatu. Rasa rinduku merayu ingin menjemput kenangan 14 tahun yang lalu. “Tunggu aku desa kenangan”, batinku.

Diterbitkan di: on 1 Maret 2010 at 10:50 am  Komentar (2)  

‘Kan Selalu Terulang

Detik – detik dalam proses penerimaan calon etoser selalu menyegarkan puing – puing kenangan. Langkah perjuanganku, tetes keringat Ayah, do’a malam Ibu, atau bahkan saudaraku yang secara diam – diam bermunajat untukku. Khusus bagiku sendiri, mengingat moment seperti ini ibarat luka lama. Kenapa? Karena dulu aku juga pernah merasakan apa yang mereka rasakan saat ini. Cemas, galau, bahkan tidak ingin hadirnya saat penantian kelulusan jika hanya perpisahan yang menyakitkan. Mungkin juga sempat untuk memungkiri takdir yang telah tertulis. Dan ingin lari dari semua itu.

Rute sosialisasi etosku kali ini berbeda dengan sosialisasi setahun yang lalu.Terlebih mengenai lokasi dan mekanisme sosialisasi. Jika setahun yang lalu,lokasi sosialisasiku fokus pada tempat dimana aku ‘membekali’ diri ( dikampung sendiri,red ). Kali ini dikampung orang. Setahun yang lalu, dibalut almamater berwarna hijau; aku melangkah pasti seorang diri dengan semangat untuk mengembalikan semangat baru bagi adik – adik. Istimewa bagi adik – adik yang selalu menunduk saat pertanyaan sederhana mendarat di gendang telinga.  Hanya satu pertanyaan Mau kuliah dimana?.

Satu pencerahan yang sangat berarti bagi mereka yang istimewa. Aku melangkah berbekal amunisi agar engkau mampu mengangkat wajah. Agar karangmu semakin tegar meskipun ombak besar menghantam. Dan kau berucap “ Dengan tekad kuat dan kondisi inilah yang membuat aku berbeda dengan mereka dalam meraih sukses “.

Sabtu, 13 Februari 2010

Untuk sosialisasi kali ini, aku sama santi ( etoser 08 ) memutuskan untuk join. Perjalanan sosialisasi dimulai dari Padang menuju Lubuk Alung tepat pukul 08.00 WIB. Berbicara mengenai Lubuk Alung, menempuh jarak waktu lebih kurang selama 2,5 jam dari Padang sampai ketujuan pertama yaitu SMAN 1 Lubuk Alung. Yah, lumayan lama. Setelah 3 kali gonta – ganti angkot, Alhamdulillah sampai juga.

Berbicara mekanisme, tidak jauh berbeda dengan yang telah dilakukan setahun yang lalu. Tentunya langkah pertama yang dilakukan adalah minta izin kepada pihak sekolah. Nah, tepatnya udah sampai pada gerbang sekolah yang dituju, aku dan santi siap – siap untuk memasang almamater agar tampak lebih keren. Dan tidak lupa buat menerapkan 5S ( senyum, salam, sapa, sopan, dan santun ). Untuk yang pertama menikmati 5S adalah penjaga sekolah (baca : satpam ).

Tanpa panjang lebar, kita diizinkan masuk untuk menemui wakil kepala sekolah. Kebetulan pada saat itu kepala sekolah sedang ada tugas ke Bungkit tinggi. Meskipun dicelah kesibukan wakil kepala sekolah sebagai tuan rumah olimpiade kimia se – Sumbar namun sambutannya cukup hangat dan bersahabat.

Tak lama berselang, kami dilayani oleh dua orang guru sepertinya sebagai delegator. Satu hal yang menarik dari pembicaraan dari salah satu delegator tersebut, yaitu mengenai status ekonomi PNS. Sekilas dapat ditangkap, mengapa seseorang yang orangtuanya berstatus PNS selalu dianggap kelompok yang selalu dieleminasi dalam hal penerimaan beasiswa atau semacamnya.

Dan usut punya usut ternyata ibuk itu berminat dengan beastudi etos untuk anaknya yang juga kelas tiga. Mengingat statusnya sebagai PNS timbul pertanyaan mengenai kriteria yang masuk kategori seleksi beastudi etos khususnya di Padang. Setelah dijelaskam sedikit banyaknya, mengenai konteks dari beasiswa itu terutama tentang beastudi etos. Pembicaraan mulai dialihkan. Akhirnya pihak sekolah mengizinkan kita untuk sosialisasi.

Tidak bisa dipungkiri, dimanapun sekolahnya jurusan IPA selalu mendapat lirikan yang pertama. Kenyataannya tidak jauh berbeda dengan sekolah ini. Untuk sosialisasi awal kita diajak kelokal IPA 1 terlebih dahulu dan final pada IPS 5. Selama sosialisasi kelokal – local; ada respon antusias, datar alias gak ada yang istimewa, dan ada juga yang bengong. Pokoknya warna – warni bak pelangi. Yang penting nikmati aja.

Dalam sosialisasi ini, kita membagi dua tahap. Yang pertama, pembukaan secara umum dihandle oleh satu orang. Dan selanjutnya penjelasan tentang beastudi etos secara detail dihandle oleh satu orang lagi. Detailnya mulai dari mekanisme seleksi, apa yang akan diperoleh, sampai pada penjabaran jurusan yang diromendasikan.

Setelah clear di SMAN 1 Lubuk Alung, saatnya mencari ‘mangsa’ lain. Yang tidak lain adalah MAN 1 Lubuk Alung; jaraknya kira – kira 10 menit naik angkot dari SMAN 1 Lubuk Alung.

Mengingat pasca gempa 30 September  ( G30S ) lalu. Disini sangat bertolak belakang dari sekolah sebelumnya. Pada sekolah pertama, bangunan masih terlihat angkuh berdiri. Namun, di sekolah kedua adalah sekolah darurat, dan terlihat adalah hasil program Dompet Dhu’afa Republika.

Di tempat kedua ini, pertemuan dengan kepala sekolah dapat terlaksana namun tujuan awal tidak tercapai. Awalnya sempat kaku karena kita ditolak. Lobi dan negosiasipun dilancarkan,namun tetap tidak mencapai titik temu. Untuk mengisi kekakuan, kita sempat meyakinkan bahwa ini beda dengan beastudi lainnya. Satu jawaban yang terlontar “ Emang benar, tetapi subtansinya akan tetap sama yaitu akan mengganggu kosentrasi belajar siswa”.

Kita sedikit renggang saat dijelaskan bahwa ada kesepakatan internal sekolah. Dimana sebisa mungkin membatasi pihak luar yang ingin masuk terutama bersifat parasit terhadap stabilitas PBM dan pencapaian target UN. Intinya kita juga tidak bisa memaksa. Yang dapat dilakukan hanyalah meninggalkan form data base dan brosur beastudi etos. Dan menyerahkan sepenuhnya pada pihak sekolah untuk proses sosialisasi.

Sempat terpikir untuk lanjut kesekolah berikutnya. Tetapi mengingat waktu yang tersisa, tidak memungkinkan untuk sosialisasi. Bertepatan pada hari sabtu, anak sekolahan lebih awal pulang daripada biasanya. Akhirnya kita memutuskan untuk balik ke Padang.

Kira – kira jam 14.15 WIB, kita sampai di Padang setelah menikmati ‘ayunan’ angkot dalam guyuran hujan sambil melepas lelah. Melelahkan namun memberikan arti tersendiri.

Diterbitkan di: on 15 Februari 2010 at 8:13 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Moment 22/12

Hanya untukmu,Ibu

Dua puluh tahun silam

Kerikil kecil mencuat tajam

Hingga telapak mu mengeras

Kau tak lelah mengemban amanah

Rutemu tak jua berubah

Hanya untuk menyapa sisi tajam bebatuan

Tegar langkahmu kini tertatih

Namun beban batu tak kunjung kau lepas

Ibu…

Mereka bilang engkau keras kepala

tapi ku tau engkau mulia

karena kumenjamah yang tersirat

Ibu…

Tak akan ada wanita kedua hingga ku tak lagi  menunggu pagi

Diterbitkan di: on 23 Desember 2009 at 8:09 am  Komentar (1)  

Bahasan

Eksistensi Mahasiswa dalam “Sumbangsih” Sosial

Mahasiswa sebagai garda terdepan menuju perubahan mewakili kalangan pemuda. Kalangan pengemban amanah sebagai agen perubahan ( agent of change ) yang idealis. Sosok yang dituntut untuk tampil sebagai penggerak. Memang hingga saat ini eksistensi mahasiswa masih bertahan sebagi “pelopor” perubahan. Jika ditilik dari sejarah, mahasiswa telah mengambil peran penting menggulingkan rezim orde baru dan memasuki era reformasi label mahasiswa sebagai agen perubahan masih terlihat.

Posisi mahasiswa sebagai generasi penerus tak terlepas dari sorotan berbagai kalangan. Bulir – bulir semangat jiwa pemuda  berstatus mahasiswa  tetap dinanti untuk mengisi pembangunan. Melanjutkan pengisian kemerdekaan yang berjiwa empati dan berdedikasi tinggi. Meskipun realitanya tak sedikit yang egois dan anarkis dalam mewujudkan perubahan.

Fokus pada mahasiswa sebagai sumbangsih masa depan. Dituntut agar mampu  bergerak positif dan berperan aktif. Dan perlu di garis bawahi penggerak tidak harus terjun ke lapangan, namun ide – ide briliant tetap mengambil peran utama. Meski terkadang idealisme itu sendiri tersita oleh politik dan jabatan ( R. Andriadi Achmad, 2007 ). Diantara tumpukan tugas dan ide  dalam  kebangkitan semangat pemuda juga harus memperhatikan “ kode etik kolaborasi”. Etika perpaduan mengaplikasikan solusi dengan kalangan eksekutif terutama dalam hal yang bersifat prinsip.

Pergerakan mahasiswa tidak hanya berbicara kampus, politik,dan jabatan. Namun kualitas jiwa sosial juga harus menjadi potensi utama. Realitanya potensi sosial mahasiswa sering tergilas oleh deadline jabatan. Dengan kata lain, mencari posisi aman untuk hari tua. Sungguh miris, jika sosok agen perubahan menutup mata terhadap fenomena sosial yang ada.

Kebangkitan mahasiswa dalam semangat kedermawanan akan aplikatif saat terjun dalam kehidupan sosial ( masyarakat ). Kongkritnya, satu dekade terakhir banyak hal yang membutuhkan perhatian khusus. Di penghujung tahun 2004 tsunami melanda Aceh, gempa di Nias, galodo di Sumbar, kebakaran hutan, robohnya tanggul Situ Gintung, lapindo yang sampai saat ini masih memuntahkan lumpurnya, dan bencana lainnya. Dalam hal ini, tentunya tidak hanya menjadi tugas satu elemen.tetapi kepekaan sosial (sense of social ) berbagai elemen, baik pemerintah, mahasiswa, maupun masyarakat pada umumnya.

Menyikapi situasi ini tentunya diperlukan mahasiswa yang proaksi. Sosok yang mampu   menularkan efek positif bagi pemuda “tidur “, misalnya bergabung dalam tim Relawan Tanggap Bencana (RTB). Proaktif menunjukkan semangat peran sosial dan mengorbankan sedikit waktu saat orang lain mengorbankan jiwa.

Memang, sejatinya tidak hanya satu aspek saja dijadikan parameter jiwa sosial mahasiswa, tapi aspek lain yang juga perlu perhatian secara spesifik. Dengan kata lain, berpartisipasi penuh dan pembenahan terhadap pendidikan juga perlu diwujudkan eksistensinya. Seperti kerjasama dengan pemerintah kota untuk membenahi sekolah – sekolah marjinal ( kritis ) juga merupakan sumbangan bermotif sosial.

Saat ini ikon – ikon sosial sebagai wadah mengimplementasikan  kedermawanan sosial belum menunjukkan efektivitas. Bercermin pada kondisi lapangan perlu adanya back up pada agen – agen perubahan. Dengan melihat kompetensi hari ini, tak jarang mahasiswa bermotif study oriented. Ironisnya, kualitas kedermawanan sosial semakin samar. Dengan kata lain, implementasi ilmu padi menunjukkan nilai minus.

Fenomena – fenomena hari ini terkadang bersifat parasit terhadap pencapaian tujuan pembaharuan. Namun, disinilah seharusnya wadah membuka mata terhadap kondisi yang terkadang menurunkan militansi agen perubahan. “Lowongan” yang selalu terbuka dan akan pernah tutup selama semangat sosial masih terjaga, seperti : penggalangan dana kampus yang dinaungi oleh BEM, aktif di PKPU, dan posko aksi sosial lain untuk anak putus sekolah & panti asuhan. Dan masih banyak hal yang dapat dilakukan untuk memupuk  jiwa empati.

Dengan kondisi yang ada tentunya besar harapan kepada mahasiswa mewujudkan eksisitensinya. Serta mampu membangkitkan semangat sosial yang selama ini belum optimal dan proaktif mengisi “lowongan” sosial.

Diterbitkan di: on 23 Desember 2009 at 8:05 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

untuk hari esok

JADI BINTANG

Hujan rintik – rintik menerpa dedaunan. Terulas senyum pada bunga yang bergoyang. Aku iri, disini aku kedinginan tak berpenghuni. Kehampaan jiwa semakin kosong menjamah lorong waktu yang berangsur samar. Terbang melayang bersama awan. Jauh dan semakin jauh menembus dunia maya untuk menggapai mimpi bersama pelangi. Semakin ku kejar semakin samar ku lihat bahkan  hilang. Namun terus ku berlari untuk menggapai yamg belum manjadi hak ku. Untuk memeluk apa yang belum sempurna untukku. Akan ku tunjukkan sebuah proses bukan hasil. Mungkin aku egois, mungkin juga aku ambisius. Tapi aku tak akan pernah bisa pungkiri bahwa aku mau bertengger di pelangi. Bahkan menjadi bintang yang selalu menyinari gelap. Yang selalu berkerlip di atas sana. Meski kecil tapi bersinar dengan sinar sendiri.

Aku tak ingin menjadi gadis peminta. Aku tak ingin ucapkan “ aku lemah, aku tak bisa”. Aku tak ingin hancurkan hati – hati yang menancapkan asa padaku. Aku selalu ingin ukir senyum di wajah yang semakin merintih di terpa badai dan gelombang kehidupan. Kaki tua dan semakin mengeras menapaki jalan – jalan berduri, harus berhenti untuk menebar senyum di hari tua.

Hari ini aku baru bisa merangkak. Tapi esok aku harus sudah bisa berjalan. Untuk membersihkan jalan keras bebatuan.

Diterbitkan di: on 15 Desember 2009 at 10:10 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.