Sebuah Analisis
Menarilah dan terus tertawa..
Walau dunia tak seindah syurga…
Lirik yang penuh makna. Lantunan suara giring-Nidji mampu menyadarkanku untuk tak pernah mengenal hari – hari pesimis. Memang…terjangan kehidupan tak akan pernah berhenti menjatuhkan kaki yang terkadang menggigil di tumpuannya. Yach… itulah realita yang harus dijalani.
Sebuah film Indonesia yang mampu membuka mata dan hatiku yang sesak untuk tetap bertahan di sisa usia yang semakin menipis. Semangat seorang lintang, berbekal sepeda tua untuk “mengejar” pendidikan. Seorang bocah yang terus berjuang dalam semangat dan keberanian membersihkan jalan setapak yang tak dikenal orang…. itulah jalan penghubung sebuah gubuk reyot – tua dengan sekolah yang tak layak pakai. Miris dibayangkan… namun dari sinilah ukiran prestasi menjadi sebuah kenangan.
Mungkin tidak hanya suatu tontonan untuk mengisi waktu luang, tapi mancari makna yang dipaparkan secara implisit. Sebuah semangat yang tak bisa dicari dengan gepokan uang saat ini, sebuah pengorban yang tulus saat asa membayang seindah pelangi.harus terhalang bahkan hilang saat sang surya tak lagi peduli… terbenam diriak samudera.
Kecewa… melihat kondisi yang ada saat ini. Ketika ku tersadar dari kelengahan, ketika ku ingin memahami hidup ini dan menyusuri helai demi helai fenomena yang ada. Semangat juang seorang lintang, hanya beberapa persen yang terwarisi. Semua tergoda dan kaku digeluti kecanggihan.
Dalam teori ekonomi : manusia itu tidak pernah merasa puas. Konsep inilah yang terkadang menjadi alasan yang selalu digembar-gemborkan yang berdampak manusia itu lalai dalam kefanaan.
Waktu yang ku tunggu
Ingin ku seret waktu yang merampas.
Ingin maki waktu yang semakin hampa dalam hari – hariku.
Namun ku selalu tersungkur untuk lakukan itu.
Waktu demi waktu semakin pahit.
Sering ku berlari kepantai.
Menyonsong amukan ombak laut yang tak mengerti lukaku.
Hanya untuk menanyakan dimana ayahku.
Ombak tak mengerti..
Gulungan ombak tak pernah mejawabku..
Waktu…
Aku setia menjadi saksi saat bola api ditelan ombak..
Aku tak pernah tinggalkan peristiwa itu..
Dengan satu asa..
Ketika sang fajar samar…
Sang mentari berucap ayahmu masih di atas hamparan samudera.
Sayang…
Semua itu hanya ada dalam imjinasiku..
Matahari tak pernah berjanji padaku…
Sebuah bahan muhasabah bagi kita yang masih diberi waktu untuk berbenah; berawal dari karangan Andrea Hirata “laskar Pelangi”.