Feeds:
Tulisan
Komentar

Ini Rinduku

Waktu mengekang rindu

Desah pilu jauh di seberang sana

Sayup – sayup menggetarkan rumah siput

Kapan pulang?

Dua kata itu runtuhkan tetes bening

Mengalir disela isakan …

Ah…

Rotasi masa terlalu lamban merangkak.

Merangkai waktu terlalu melelahkan

Untuk meninabobokkan bulir – bulir kerinduan menyentak sadis.

Sampai kapan sayang ?

Visi hidupmu hasrat tanpa hambatan

Nafsu, ego, dan marah adalah misimu.

Orangtua dan saudara musuhmu,

Nasehat orang bijak cacian bagimu,

Sampai kapan sayang ?

Hidup royal kewajiban bagimu

Menindas orangtua sasaran inginmu

Sampai kapan sayang ?

Andai kau singkap tabir asa mereka

Kau tak akan mampu bangkit

Menatap keriput tulang pipinya

Yang selalu tersungkur dihening malam agar hidayah itu hadir dihatimu.

Tanpa Lentera

Pertengahan senja mengayuh asa

Menguntai syair – syair penutup siang

Bersaksi direkahan jingga senja yang kian merona

Dalam simpuh meringis perih

Perlahan menggumam, meneguk kelu

Nyataku hanya bisa menangisi kelumpuhan

Menatap engkau yang kian jauh tanpa lentera

Engkau melumat asa mulia

Citamu memudar tersiram air haram

Engkau terlalu lincah untuk memainkan kartu

Kembalilah mengecup kasih-Nya

Seharusnya Qt

Mengenang Syahidah Hijab

“ Wahai Nabi, katakanlah kepada istri – istrimu, anak – anak  perempuanmu, dan istri – istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. ( Al – Ahzaab : 59 ).

Melihat fenomena yang terjadi hari ini jilbab bukanlah bahasan klasik. Tetapi selalu ada bahasan yang tidak pernah ada habisnya selama manusia itu ada. Mengenang tragedy 1 juli 2009 di Jerman, pelecehan terhadap jilbab dan pembunuhan sadis Marwa Al – sherbini  seorang muslimah mesir oleh seorang pemuda ( 28 tahun ) rasis Jerman berkebangsaan Rusia. Tragedy ini mampu menyentakkan umat muslim di belahan Timur dan Barat dunia. Muslimah yang berusia 32 tahun ini tengah hamil, ditikam sebanyak 18 kali hingga tewas di sebuah ruang pengadilan di timur Dreseden. Suaminya yang akan melanjutkan S-2 juga terluka saat berusaha menolong sang istri.

Seruan keprihatinan dan usulan mengabadikan tragedy yang memilukan ini datang dari berbagai belahan dunia. Seperti yang dikatakan oleh Rawa Al-Abed, pejabat Federation of Islamic Organizations di Eropa: “Kami mendukung usulan Hari Jilbab se-Dunia itu, dan kami juga menyerukan adanya event-event guna menumbuhkan kesadaran tentang hak-hak wanita Muslim di Eropa, termasuk hak mengenakan jilbab.”

Peristiwa ini juga memperkuat konferensi pro-hijab tanggal 12 Juli 2004 di London  dengan tema “ Assembly for the protection of hijab ( majelis untuk perlindungan hijab ). Pada konferensi tersebut dideklerasikan bahwa setiap tanggal 4 September ditetapkan sebagai Internasional Hijab Solidarity Day (  IHSD ).

Syahidnya Marwa Al – sherbini tidak hanya sebagai syuhada jilbab, tetapi juga korban dari  Islamophobia yang merupakan problema yang dialami umat muslim Eropa. Tentunya fenomena hijab hari ini tidak terlepas dari tuntutan peran kita sesama muslim. Menumbuhkan kesadaran terhadap hijab ( jilbab ) perlu adanya sorotan secara detail. Alasan – alasan berjilbab secara syar’i terkadang bernotabene “ belum pantas”. Terkesan klise memang.

Seruan Allah untuk membentengi diri terutama mengenai hijab begitu jelas tercantum dalam al – qur’an. Kewajiban menutup aurat kecuali terhadap yang bukan muhrim tidak ada tawaran lagi. Allah selalu mewanti – wanti umat muslim, seperti hal nya  dalam surat An – nur ayat 31 :

“ Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya”.

Persentase mahasiswi sebagai wakil pemuda muslimah di Indonesia yang telah menyadari berhijab secara syar’i masih berkisar 30 %. Jika ditilik dari pemuda Indonesia yang mayoritas islam, sungguh angka yang memiriskan. Fokus pada mahasiswi mewakili kalangan pemuda, perlu adanya sosialisasi secara kontiniu untuk meningkatkan persentasi kesadaran berhijab.

Untuk meningkatkan kesadaran memakai hijab secara syar’i, tentu perlu adanya sosok yang mengambil peran. Pelopor baru yang andil dalam mensosialisasikan hijab yang memenuhi kriteria islam. Dan hal yang penting diingat adalah kader harus mampu merambah segala sisi kehidupan. Yang dimulai dari lingkungan terkecil dan terdekat ; diri sendiri, keluarga, teman, dan lingkungan yang lebih luas. Hendaknya  asumsi ammah yang selama ini terkesan ekslusif terhadap pergerakan aktivis dakwah kampus ( ADK ). Kedepannya kita sama – sama berharap dan ber’azzam, mampu berkolaborasi dengan berbagai kalangan baik ammah dan hanif. Allahu wa alam bissawab.

sendiri n terdiam

Alunan muhasabah

getar dawai instrument do’aku mengalun perlahan.

Menembus pori – pori sentakkan roma.

Alunan syahdu merasuk…

Hanyut mengikuti aliran darah merah.

Sungguh maha teliti cipta cintaku,

Tapi kenapa?

Dua bola ini masih kering.

Begitu angkuh  teteskan titik bening itu.

Bahkan hati ini belum juga bergetar.

Segumpal daging terasa beku.

Dan semakin keras dengan tempelan bintik hitam.

Ya Rabb…

Luluhkan kebekuan yang terserang angkuh.

Tiupkan rasa damai untuk jiwa ini.

Saat mentadabburi kalam-Mu.

Disetiap do’a – do’aku.

Alunan muhasabah

getar dawai instrument do’aku mengalun perlahan.

Menembus pori – pori sentakkan roma.

Alunan syahdu merasuk…

Hanyut mengikuti aliran darah merah.

Sungguh maha teliti cipta cintaku,

Tapi kenapa?

Dua bola ini masih kering.

Begitu angkuh  teteskan titik bening itu.

Bahkan hati ini belum juga bergetar.

Segumpal daging terasa beku.

Dan semakin keras dengan tempelan bintik hitam.

Ya Rabb…

Luluhkan kebekuan yang terserang angkuh.

Tiupkan rasa damai untuk jiwa ini.

Saat mentadabburi kalam-Mu.

Disetiap do’a – do’aku.

I l0ve U

Selipan doa

Dibalik tirai kusam..

Kutatap sebentuk wajah terpaku dalam dingin dan sunyi.

Hanya detak jarum jam memecah sepi..

Deru kutahan diruang sempit,hati.

Desah panjangnya berujung tetesan bening..

menelusuri paras yang kian menua..

bergelayut kerapuhan dan kelelahan..

keras sandaran tak mampu menopangnya tak mampu lemaskan persendiannya.

seolah – olah semua tak mengerti, bisu.

Perjalanan si hitam nan kelam merangkak semu..

Tak mengerti… hampa…

bius kantuk enggan menyerang matanya yang sayu.

kebekuan malam menyudutkan jiwannya

Ya Rabb… Ingin kutularkan ” racun” ini pada sosok tua itu..

Agar nestapa segumpal daging didadanya.

Tak lagi mengisi usia senjanya meski sekejap…

Ya Rabb…

Cukup baginya masa muda yang tersita perih hidup..

Berikan senyum ikhlas untuk jiwanya yang rapuh..

Menyonsong rona sang fajar.

mujahidah

STUDI ATO DA’WAH…??

Hidup adalah pilihan. Suatu kondisi yang pasti dialami oleh setiap manusia. Sungguh tak bisa dipungkiri lagi, satu kalimat ini terkadang muncul tak kenal waktu. Satu kalimat yang selalu menuntut otak untuk berfikir kritis dan tuntutan untuk bisa menyatakan pilihan yang tepat. Situasi menyerang yang tidak kenal waktu, tidak memperdulikan siapa mangsanya baik tua maupun muda, baik orang labil maupun yang stabil, baik aktivis maupun non aktivis.

Pilihan memang terasa berat saat dihadapkan pada masalah yang sama pentingnya (urgensi tingkat tinggi). Apalagi menyangkut masalah yang sama – sama memperjuangkan kemaslahatan ummat. Dalam hal ini yang signifikan dalam kehidupan sehari – hari adalah perjalanan para aktitivis baik aktivis da’wah maupun aktivis – aktivis lainnya.

Jika masuk dalam konteks islam,contoh kongkrit bagi seorang aktivis da’wah adalah ketika berdiri diantara dua jalan yang yang sama pentingnya dan hal itu tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.

Studi atau da’wah ??

Satu pertanyaan yang sederhana, tapi butuh waktu dan pilihan yang tepat untuk menjawabnya. Sebuah pertanyaan yang diibaratkan sebagai dunia dan akhirat. Ketika akhirat ( da’wah ) yang menjadi pilihan, dunia adalah sarana untuk menjalankan misi – misinya. Dan ketika dunia (studi) yang menjadi pilihan, sesungguhnya dunia itu fana. Studi dan da’wah tidak seharusnya menjadi suatu pilihan karena memang tidak bisa dipisahkan dan memiliki hubungan yang sangat erat.

Sebuah ungkapan di selembar baju kaos yang benar – benar menarik “ dahulukan kuliah, utamakan da’wah “. Dari slogan tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa studi dan da’wah itu sama – sama mendudukui posisi penting yang menjadi prioritas utama.

Bagi kader da’wah yang benar – benar memahami arti penting dari kedua kata tersebut, tak ada kata pilihan dalam kamus hidupnya, tak ada alasan yang mampu menggoyahkan pendiriannya untuk berkilah dan mencari celah agar bisa memilih satu diantara yang utama tersebut. Subhanallah….

Ketika vonis telah telah disahkan oleh ketukan palu hatinya. Azzam-pun muncul untuk mendapatkan tingkatan orang yang bertaqwa disisi-Nya. Terbersit dihatinya bahwa amanah bukanlah sekedar amanah untuk menambah daftar beken sebagai aktivis da’wah. Bahkan menjalankan amanah dalam satu masa yang sama pentingnya menjadi suatu tantangan dan ladang amal untuk mencapai tingkatan taqwa dan mengukur keimanan serta ketangguhan dalam menghadapi problema yang ada.

Keseimbangan sangat dibutuhkan dalam memikul dua amanah atau lebih yang menduduki posisi tersebut. Dan bukanlah satu alasan untuk berkilah karena menanggung beban berat, sehingga salah satu amanah terabaikan di tengah kesibukan.

Studi adalah jalan untuk menimba ilmu sebagi bekal untuk terjunketengah masyarakat dan dakwah adalah sarana untuk mengaplikasikan ilmu. Dan Jalan tidak mulus serta tantangan yang ada bukanlah akhir dari perjuangan untuk meninggalkan semua amanah. Namun satu motivasi dan langkah awal untuk menuju kejayaan yang pernah lepas dari tangan.

Jadi, studi dan da’wah bukanlah dua hal yang semestinya dipisahkan apalagi menjadi pilihan tapi harus sejalan,dan saling mendukung karena dalam da’wah juga merupakan salah satu jalan untuk menimba ilmu.

Keep spirit for islam hai para pejuang Allah…!!

Allahuakbar…..!!

pejuang tangguh

Hati untuk pejuang tangguh

Disinilah banyak ku temukan arti sebuah ketabahan. Dulu aku hanya tau bagaimana menyusun strategi untuk menghadapi hidup yang terkadang menyamarkan satu asa yang seharusnya jadi pelangi.. dan selalu berharap setetes embun penyejuk saat sang fajar memudar..

Itu dulu…. Saat aku hanya memikirkan diri sendiri.. egois.

Itu dulu… Saat aku masih awam hidup bejama’ah, meskipun sebenarnya aku ada di jama’ah itu…

Namun… Seiring berjalannya sang waktu.. hidayah-Nya membuka hati yang beku dan lidah yang kelu.

Kini…. Disini…

sering ku menatap hari – hari dalam desah nafas seorang pejuang tangguh.. terkadang ku curi pandang untuk menyusuri lekuk wajahnya yang semakin tua dan lelah..

“ah aku tau engkau selalu memotivasi diri untuk menjadi wanita tangguh meski rasa rindu kedamaian jarang terpenuhi oleh orang – orang di sekelilingmu”.

Pernah ku coba memasuki sisi gelap hidup mu, namun engkau jarang membuka desahmu.. untuk ku ambil sebuah makna sebagai bekal untukku menatih hidup yang ada di takdirku.

Mungkin hanya isyarat yang yang mampu kita ungkapkan disaat kelelahan memaksa kita untuk saling berbagi..

Pejuang tangguh..

kebersamaan kita selama ini belum mampu mengungkapkan topeng jiwa yang menjadi misteri kita… engkau lebih tenang menampar bunga – bunga yang bergoyang di pot – pot mungil dengan gejolakmu, kau semburkan api nestapa yang bergelayut di hari – harimu.

Pejuang tangguh…

Jika itu yang bisa membuatmu melihat secercah cahaya kebahagiaan.. lakukanlah.

laskar

Sebuah Analisis

Menarilah dan terus tertawa..

Walau dunia tak seindah syurga…

Lirik yang penuh makna. Lantunan suara giring-Nidji mampu menyadarkanku untuk tak pernah mengenal hari – hari pesimis. Memang…terjangan kehidupan tak akan pernah berhenti menjatuhkan kaki yang terkadang menggigil di tumpuannya. Yach… itulah realita yang harus dijalani.

Sebuah film Indonesia yang mampu membuka mata dan hatiku yang sesak untuk tetap bertahan di sisa usia yang semakin menipis. Semangat seorang lintang, berbekal sepeda tua untuk “mengejar” pendidikan. Seorang bocah yang terus berjuang dalam semangat dan keberanian membersihkan jalan setapak yang tak dikenal orang…. itulah jalan penghubung sebuah gubuk reyot – tua dengan sekolah yang tak layak pakai. Miris dibayangkan… namun dari sinilah ukiran prestasi menjadi sebuah kenangan.

Mungkin tidak hanya suatu tontonan untuk mengisi waktu luang, tapi mancari makna yang dipaparkan secara implisit. Sebuah semangat yang tak bisa dicari dengan gepokan uang saat ini, sebuah pengorban yang tulus saat asa membayang seindah pelangi.harus terhalang bahkan hilang saat sang surya tak lagi peduli… terbenam diriak samudera.

Kecewa… melihat kondisi yang ada saat ini. Ketika ku tersadar dari kelengahan, ketika ku ingin memahami hidup ini dan menyusuri helai demi helai fenomena yang ada. Semangat juang seorang lintang, hanya beberapa persen yang terwarisi. Semua tergoda dan kaku digeluti kecanggihan.

Dalam teori ekonomi : manusia itu tidak pernah merasa puas. Konsep inilah yang terkadang menjadi alasan yang selalu digembar-gemborkan yang berdampak manusia itu lalai dalam kefanaan.

Waktu yang ku tunggu

Ingin ku seret waktu yang merampas.

Ingin maki waktu yang semakin hampa dalam hari – hariku.

Namun ku selalu tersungkur untuk lakukan itu.

Waktu demi waktu semakin pahit.

Sering ku berlari kepantai.

Menyonsong amukan ombak laut yang tak mengerti lukaku.

Hanya untuk menanyakan dimana ayahku.

Ombak tak mengerti..

Gulungan ombak tak pernah mejawabku..

Waktu…

Aku setia menjadi saksi saat bola api ditelan ombak..

Aku tak pernah tinggalkan peristiwa itu..

Dengan satu asa..

Ketika sang fajar samar…

Sang mentari berucap ayahmu masih di atas hamparan samudera.

Sayang…

Semua itu hanya ada dalam imjinasiku..

Matahari tak pernah berjanji padaku…

Sebuah bahan muhasabah bagi kita yang masih diberi waktu untuk berbenah; berawal dari karangan Andrea Hirata “laskar Pelangi”.

Tulisan Sebelumnya »